Pencarian

Harga Minyak Turun ke US$107,82 Akibat Stok AS Naik Tak Terduga

Rabu, 16 September 2026 • 11:32:32 WIB
Harga Minyak Turun ke US$107,82 Akibat Stok AS Naik Tak Terduga
Harga minyak mentah Brent turun 0,86 persen menjadi US$107,82 per barel pada Rabu (16/9).

NARAWARTA.COM — Harga minyak mentah Brent turun 0,86 persen menjadi US$107,82 per barel pada Rabu (16/9), merespons lonjakan tak terduga cadangan minyak mentah Amerika Serikat. Data American Petroleum Institute mencatat kenaikan stok sebesar 7,1 juta barel, jauh melampaui proyeksi analis yang memprediksi penurunan. Tekanan harga ini terjadi di tengah ketidakpastian pasokan akibat gangguan operasional pipa East-West Arab Saudi.

Pergerakan harga komoditas energi global menunjukkan dinamika berlawanan dalam dua sesi perdagangan terakhir. Setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 19 Mei dengan kenaikan lebih dari US$3 per barel, pasar kini kembali koreksi. Penurunan ini didorong oleh rilis data persediaan minyak mentah AS yang mengejutkan pelaku pasar.

Data Persediaan AS Jadi Pemicu Koreksi Harga

Stok minyak mentah AS naik 7,1 juta barel pada pekan yang berakhir 11 September. Angka ini bertolak belakang dengan ekspektasi konsensus analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan sekitar 1,6 juta barel. Kenaikan tak terduga ini langsung menekan sentimen bullish yang terbentuk sebelumnya.

Tidak hanya minyak mentah, data API juga menunjukkan peningkatan stok bensin dan produk sulingan. Kondisi tersebut mengindikasikan permintaan domestik AS mungkin sedang melambat atau produksi berjalan lebih cepat dari konsumsi. WTI sebagai acuan harga di AS pun ikut terkoreksi turun 0,92 persen ke posisi US$104,86 per barel.

Risiko Pasokan Global Masih Mengintai

Meski harga turun, fundamental pasar minyak masih ketat. Haitong Futures menilai bahwa peningkatan stok di wilayah tertentu tidak mengubah kondisi mendasar pasar global. Ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor penahan harga agar tidak jatuh lebih dalam.

Sumber utama risiko berasal dari Arab Saudi yang menghentikan sementara aktivitas pemuatan minyak di Pelabuhan Yanbu. Keputusan ini menyusul serangan kelompok Houthi Yaman terhadap pipa East-West pada Jumat lalu. Pipa tersebut merupakan jalur vital untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari, setara 4 persen pasokan global, ke Laut Merah tanpa melalui Selat Hormuz.

Proyeksi Waktu Perbaikan Infrastruktur

Gangguan ini berpotensi memangkas pengiriman minyak ke Eropa jika tidak segera terselesaikan. Menteri Energi AS menyatakan aliran minyak diperkirakan pulih dalam beberapa hari. Namun, sumber Reuters memberikan perkiraan waktu perbaikan yang bervariasi.

  • Satu sumber memperkirakan proses perbaikan membutuhkan waktu 5-6 pekan.
  • Sumber lain menyebut pemompaan sebagian dapat dilakukan lebih cepat sambil perbaikan berlanjut.

Ketidakpastian durasi gangguan infrastruktur ini membuat investor tetap waspada. Pasar akan memantau perkembangan operasional pipa East-West sebagai kunci arah harga minyak dalam jangka pendek. Volatilitas diprediksi masih tinggi seiring berbenturannya data persediaan AS yang longgar dengan risiko suplai Timur Tengah yang nyata.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow narawarta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks