NARAWARTA.COM — Dua warga negara Jerman ditangkap polisi Paris setelah menempelkan dua lukisan di dinding ruang pamer Mona Lisa, Museum Louvre. Aksi itu berlangsung di area yang setiap hari dipadati pengunjung yang ingin melihat langsung karya Leonardo da Vinci tersebut. Petugas keamanan menahan keduanya sebelum diserahkan ke kepolisian setempat.
Dua warga negara Jerman diamankan otoritas Prancis setelah melakukan aksi vandalisme di dalam Museum Louvre, Paris. Mereka menempelkan dua lukisan berukuran sekitar 30 x 40 sentimeter di dinding aula tempat Mona Lisa dipajang. Perbuatan itu menyebabkan kerusakan ringan pada bagian dinding ruang pamer.
Petugas keamanan Louvre bergerak cepat menahan kedua pria tersebut, lalu menghubungi kepolisian. Polisi menetapkan keduanya sebagai tersangka atas dugaan perusakan ringan. Saat diperiksa, mereka mengaku melakukannya untuk bersenang-senang, menurut sumber kepolisian yang dikutip AFP.
Kronologi Aksi di Ruang Mona Lisa
Kedua pelaku menggunakan selotip untuk merekatkan karya mereka ke dinding. Satu lukisan menampilkan salah satu pelaku mengenakan baju zirah. Lukisan lainnya memperlihatkan kedua pria itu bersama seorang perempuan.
Mona Lisa sendiri tidak mengalami kerusakan apa pun. Karya Leonardo da Vinci itu berada di balik lapisan kaca pelindung tebal yang menjadi standar pengamanan ruang pamer. Kedua pelaku akan dipanggil menghadap persidangan setelah Louvre mengajukan laporan resmi.
Latar Keamanan Museum yang Jadi Sorotan
Insiden ini terjadi ketika Louvre tengah meningkatkan kewaspadaan. Sebelumnya, sejumlah museum dan galeri di Prancis menjadi sasaran aksi pencurian. Kondisi itu memunculkan pertanyaan soal keamanan institusi budaya di negara tersebut.
Pada Oktober 2025, Louvre pernah dibobol pada siang hari. Delapan perhiasan bernilai jutaan dolar raib dalam aksi itu. Polisi telah menangkap empat tersangka, tetapi barang-barang yang dicuri belum ditemukan hingga penyelidikan berjalan.
Pencurian tersebut mengungkap sejumlah kelemahan keamanan Louvre, termasuk sistem kamera pengawas yang sudah ketinggalan zaman. Audit yang diperintahkan museum pada 2019 sebenarnya telah mencatat persoalan serupa. Temuan dalam laporan itu tidak ditindaklanjuti.
Tekanan Kepadatan Pengunjung dan Iklim
Louvre menerima sekitar sembilan juta pengunjung sepanjang tahun lalu. Jumlah itu jauh melampaui kapasitas yang dirancang untuk museum. Kepadatan di ruang Mona Lisa menjadi salah satu titik yang paling banyak didatangi wisatawan dari berbagai negara.
Pada Juni 2026, gelombang panas memaksa manajemen menutup museum dua jam lebih awal, pukul 4 sore, dari Rabu hingga Sabtu, 24?27 Juni 2026. Suhu yang melonjak di Paris membuat kondisi kunjungan dan kerja menjadi sulit selama jam-jam terpanas.
Manajemen menyatakan bangunan bersejarah itu rentan dan tidak cukup beradaptasi dengan perubahan iklim. Direktur museum, Christophe Leribault, memperingatkan bahwa Louvre kehabisan tenaga karena kesulitan mencari dana untuk meningkatkan fasilitasnya yang sudah tua.
Prancis menjadi negara paling terdampak gelombang panas ekstrem di Eropa. Météo-France menempatkan 54 wilayah administratif dalam peringatan merah pada 23 Juni 2026. Lebih dari 450 rekor suhu panas dipecahkan atau disamai di seluruh negeri, dengan suhu rata-rata nasional 29,2 derajat Celcius. Di Departemen Cher, temperatur bahkan naik hingga 43,3 derajat Celcius.
Rencana Pembaruan Louvre
Pada Mei 2026, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan rencana pembaruan besar untuk Louvre. Proyek tersebut mencakup pembangunan ruang khusus baru untuk Mona Lisa, serta pintu masuk museum yang baru.
Bagi wisatawan yang berencana berkunjung, kepadatan di area Mona Lisa tetap menjadi perhatian utama dalam operasional museum. Informasi terkini soal jadwal kunjungan dan jam operasional dapat dikonfirmasi melalui kanal resmi Museum Louvre.