NARAWARTA.COM — Banjir melanda tiga wilayah di Sumatera Utara secara bersamaan pada Senin (7/9). Kabupaten Langkat menjadi daerah dengan dampak terluas, di mana 2.678 kepala keluarga (KK) yang tersebar di empat kecamatan terendam banjir dengan ketinggian air bervariasi antara 30 sentimeter hingga 1 meter.
Kabid Penanganan Darurat Peralatan dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, menyatakan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Meski begitu, ribuan warga terdampak akibat air yang menggenangi permukiman dan sejumlah ruas jalan.
Empat Kecamatan di Langkat Terendam Banjir
Hujan deras yang turun terus menerus selama dua hari di hulu Sungai Batang Serangan menyebabkan debit air meningkat signifikan. Banjir mulai terjadi pukul 06.00 WIB dan merendam Kecamatan Batang Serangan, Sawit Seberang, Padang Tualang, dan Tanjung Pura.
"Di Kecamatan Batang Serangan, Desa Sei Bamban diperkirakan terdampak 840 KK dengan ketinggian air 30 cm sampai dengan 1 meter," ujar Sri Wahyuni, Senin. Sementara di Kecamatan Sawit Seberang, Desa Alur Gadung terdampak 630 KK dengan ketinggian air 30 hingga 60 cm.
Desa Tebing Tanjung Selamat di Kecamatan Padang Tualang mencatat 728 KK terdampak dengan genangan 30-70 cm. Adapun di Kelurahan Pekan Tanjung Pura, Kecamatan Tanjung Pura, sebanyak 480 KK terendam dengan ketinggian air serupa.
Medan: 482 Rumah Terendam di Tiga Kelurahan
Di Kota Medan, banjir merendam permukiman warga di Kecamatan Medan Maimun. Total 482 unit rumah terendam dengan 817 KK atau 1.948 jiwa terdampak, tersebar di Kelurahan Hamdan, Sei Mati, dan Aur.
"Rinciannya di Kelurahan Hamdan sebanyak 330 KK atau 548 jiwa atau 127 unit rumah terendam; di Kelurahan Sei Mati sebanyak 327 KK atau 1.050 jiwa atau 275 unit. Dan di Kelurahan Aur sebanyak 160 KK atau 350 jiwa atau 80 unit rumah," urainya.
Deliserdang Usulkan Pintu Klep untuk Cegah Banjir
Di Kabupaten Deliserdang, banjir terjadi di Desa Punden Rejo, Kecamatan Tanjung Morawa, setelah air Sungai Sei Putih meluap. Genangan setinggi sekitar 15 sentimeter masuk ke permukiman warga dan diperkirakan berdampak pada 30 KK.
Pemerintah Kabupaten Deliserdang telah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Punden Rejo dan mengusulkan pembuatan pintu klep agar air tidak masuk ke drainase. "Petugas juga melakukan pemantauan daerah rawan bencana banjir, berkoordinasi dengan kepala lingkungan setempat," kata Sri Wahyuni.
BPBD Sumut mengimbau masyarakat agar tetap siaga apabila terjadi kenaikan debit air secara tiba-tiba. Posko Pusdalops BPBD Sumut beroperasi 24 jam untuk memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait.
"BPBD juga menyiapkan personel dan sejumlah sarana prasarana, termasuk perahu karet, mobil tangki air, serta perlengkapan darurat untuk mengantisipasi kemungkinan evakuasi apabila kondisi memburuk," ujarnya.