Pencarian

Pertamina EP Pacu Panen Petani Indramayu Jadi 11 Ton per Hektare

Kamis, 24 September 2026 • 08:23:01 WIB
Pertamina EP Pacu Panen Petani Indramayu Jadi 11 Ton per Hektare
Petani binaan Pertamina EP memanen gabah di sawah tadah hujan Desa Jatisura, Indramayu.

NARAWARTA.COM — Pertamina EP Jatibarang Field mendampingi 60 petani di Desa Jatisura, Indramayu, dengan hasil panen gabah kering panen naik dari 6,5 ton menjadi 8,5-11 ton per hektare. Program yang dimulai 2025 itu menyasar lahan sawah tadah hujan yang unsur haranya sudah rusak. Dampaknya, frekuensi panen petani binaan berlipat dari sekali menjadi dua kali setahun.

Pertamina EP Jatibarang Field memperluas program pendampingan pertanian di Desa Jatisura, Indramayu, setelah hasil uji coba di musim tanam pertama terbukti meningkatkan produksi gabah. Officer Communication Relation & CID PT Pertamina EP Zona 7, Noor Taufiq, menyebut program ini berangkat dari kondisi lahan sawah tadah hujan warga yang produktivitasnya rendah.

Sebagian besar masyarakat di sekitar wilayah operasi perusahaan memang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Karena itu, pendampingan ini diarahkan untuk menyinergikan ketahanan pangan dengan ketahanan energi di kawasan operasi.

Berawal dari Uji Laboratorium Unpad

Sebelum pendampingan dilakukan, sawah warga hanya bisa dipanen satu kali dalam setahun. Padahal sebelumnya lahan itu bisa ditanami dua kali. Penurunan itu membuat kelompok tani mengadu ke Pertamina.

Langkah pertama yang diambil adalah menguji kadar unsur hara tanah di laboratorium Universitas Padjadjaran. Dari hasil uji itu, perusahaan mengetahui elemen mana yang kurang dan mana yang masih cukup baik, sehingga pemupukan bisa dilakukan secara proporsional.

"Ketika pertama kali kami mendengar dari kelompok tani, kelompok masyarakat dari para petani di Desa Jatisura, kondisi unsur haranya memang sudah 'sakit', yang tadinya ditanami 2 kali setahun itu nggak bisa," kata Taufiq di Desa Jatisura, Indramayu, Rabu (23/9/2026).

"Dari lab itu kita tahu kandungan eh dari kandungan unsur hara elemen mana yang memang kurang dan elemen mana yang masih cukup baik. Di sanalah kita bisa melakukan proporsionalisasi pupuk," jelasnya.

Lima Sumur Bor hingga Rumah Burung Hantu

Pertamina tidak berhenti pada perbaikan tanah. Lima titik sumur bor dibangun untuk memperbaiki pengairan lahan pertanian warga. Perusahaan juga memberikan bantuan pengaplikasian agen hayati Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR).

Untuk mengendalikan serangan hama tikus, dipasang Rumah Burung Hantu (Rubuha) agar predator alami bisa bekerja. Kombinasi penanganan itu terbukti menekan biaya perawatan tanaman sekaligus mendongkrak volume panen.

Rata-rata produksi gabah kering panen petani binaan kini berada di angka 8,5 sampai 11 ton per hektare, naik dari sebelumnya 6,5 ton per hektare. Frekuensi panen pun kembali menjadi dua kali dalam setahun.

Dari 10 Petani jadi 60 Petani

Program ini awalnya hanya uji coba di lahan seluas satu hektare bersama sepuluh petani. Pada musim tanam kedua, jumlah peserta melonjak menjadi sekitar 60 petani yang tergabung dalam enam kelompok tani, dengan total lahan garapan 114 hektare.

Menurut Taufiq, lonjakan itu terjadi karena petani lain melihat langsung hasil di musim tanam pertama. Biaya perawatan yang lebih rendah ternyata dibarengi hasil panen 30-50 persen lebih tinggi.

"Kita melihat dari musim tanam pertama itu baru 10 orang. Kemudian di musim tanam kedua, ketika melihat hasil di musim tanam pertama, yang 10 orang ini tuh dengan biaya perawatan yang rendah tapi dengan hasil yang ternyata 30 - 50% lebih tinggi, sehingga di musim tanam kedua banyak juga kelompok tani yang siap untuk beralih," pungkasnya.

Soal kelanjutan program, Pertamina menyerahkan pada sejauh mana ilmu yang ditransfer bisa diterapkan masyarakat dan bukti nyata di lapangan. "Kalau sampai kapan program ini dijalankan, ya harapan kami ketika ilmu ini sudah bisa kita transfer kepada masyarakat dan ketika ada bukti yang nyata," ucap Taufiq.

Bagi petani Indramayu, hasil ini menjadi titik balik setelah bertahun-tahun bergantung pada sawah tadah hujan yang minim pengairan. Bagi Pertamina EP Jatibarang Field, keberhasilan di 114 hektare itu menjadi modal untuk memperluas pendampingan ke kelompok tani lain di sekitar wilayah operasi.

Sumber: finance.detik.com

Follow narawarta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks