NARAWARTA.COM — Bencana datang tanpa peringatan. Karena itu, kesadaran bahwa risiko tersebut bisa menimpa siapa saja disebut sebagai titik awal yang tepat untuk mulai menyisihkan penghasilan.
Perencana Keuangan Andi Nugroho menegaskan tidak ada kata terlambat untuk memulai. Menurut dia, waktu paling tepat adalah begitu seseorang menyadari bahwa kondisi darurat juga bisa terjadi pada dirinya.
"Waktu yang paling tepat untuk memulainya adalah ketika kita mulai menyadari bahwa kondisi-kondisi seperti jawaban pertanyaan nomor satu itu bisa terjadi juga pada kita, maka kita mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat tersebut," kata Andi kepada CNNIndonesia.com.
Kesadaran Perlu Diikuti Tindakan Nyata
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia, Dandy, menambahkan kesadaran saja tidak cukup. Menurut dia, tidak ada gunanya memahami pentingnya dana darurat jika tidak diikuti dengan menyisihkan uang secara rutin untuk membentuknya.
Dana darurat berbeda karakter dengan dana investasi. Tujuannya bukan mengejar keuntungan jangka panjang, melainkan memastikan uang siap pakai saat dibutuhkan mendesak.
Simpan di Instrumen Mudah Cair dan Rendah Risiko
Andi menyebut beberapa pilihan instrumen yang bisa dipertimbangkan untuk menempatkan dana darurat, mulai dari rekening bank, deposito, logam mulia, hingga reksa dana berbasis pasar uang atau pendapatan tetap.
"Selayaknya dana darurat pada umumnya, maka dana untuk bencana juga sebaiknya disimpan di instrumen investasi yang berisiko rendah dan gampang untuk dicairkan kembali," ujarnya.
Karakter likuid dan berisiko rendah itu penting agar masyarakat bisa segera memakai dananya ketika keadaan darurat terjadi, tanpa khawatir nilai aset sedang turun.
Dandy menyarankan dana darurat ditempatkan pada instrumen paling likuid, seperti rekening bank. Uang tunai juga bisa disiapkan dalam jumlah tertentu, tetapi menyimpan terlalu banyak uang tunai punya risiko sendiri.
"Tempat simpan paling disarankan adalah yang paling likuid ya, bisa dimasukkan ke bank atau berupa uang tunai. Namun uang tunai berisiko kalau di keadaan mendesak," ujar Dandy.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menempatkan dana darurat di instrumen berisiko tinggi seperti saham.
"Sangat tidak disarankan untuk masukkan dana darurat ke saham atau untuk cari keuntungan ke instrumen yang high risk," ujarnya.
Besaran Ideal: Tiga Kali Penghasilan atau Pengeluaran
Besaran dana darurat bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Andi menggunakan acuan minimal tiga kali penghasilan bulanan.
"Jadi idealnya kita memiliki dana darurat itu minimal sebesar 3x penghasilan bulanan kita," katanya.
Sementara Dandy memakai acuan tiga kali pengeluaran bulanan. Artinya, kebutuhan dana darurat dihitung dari pengeluaran rutin yang tetap harus dibayar ketika kondisi darurat terjadi.
Dua pendekatan itu memberi ruang bagi pekerja dengan penghasilan tetap maupun yang pengeluarannya lebih besar dari penghasilan untuk menentukan target dana darurat yang realistis.
Investasi mengandung risiko.