NARAWARTA.COM — Estimasi tersebut disusun dari kepemilikan Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam pada PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE). Perhitungan mengacu pada harga penutupan perdagangan 18 Agustus 2026 dan kapitalisasi pasar masing-masing emiten.
Angka Rp 62,14 triliun bukan total kekayaan bersih Haji Isam. Nilai itu merupakan harga pasar atas saham yang dikaitkan dengan kepemilikannya, sehingga bisa berubah mengikuti pergerakan harga saham harian.
Rincian Nilai Kepemilikan di Tiga Emiten
Kepemilikan tersebar melalui keluarga maupun perusahaan yang berada di bawah kendali Haji Isam. Berikut rinciannya:
- PGUN: 76,69 persen saham melalui putrinya, Liana Saputri. Dengan kapitalisasi pasar Rp 52,64 triliun dan harga saham Rp 9.175 per saham, nilai kepemilikan sekitar Rp 40,37 triliun.
- JARR: 86,64 persen melalui perusahaan yang dikuasainya. Dengan kapitalisasi pasar Rp 23,17 triliun dan harga saham Rp 2.510 per saham, nilai kepemilikan sekitar Rp 20,07 triliun.
- TEBE: 76,91 persen melalui PT Dua Samudera. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 2,2 triliun dan harga saham Rp 1.715 per saham, nilai kepemilikan sekitar Rp 1,69 triliun.
Jika dijumlahkan, total nilai pasar ketiga kepemilikan itu sekitar Rp 62,14 triliun atau US$ 3,50 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kekayaan sejumlah nama besar di daftar Forbes, seperti bos Alfamart Djoko Susanto (US$ 2 miliar) dan Mochtar Riady (US$ 2,2 miliar).
Perbandingan itu tidak serta-merta menempatkan Haji Isam dalam daftar Forbes. Nilai kepemilikan saham bukan ukuran yang sama dengan kekayaan bersih.
Mengapa Haji Isam Belum Masuk Daftar Forbes
Haji Isam belum tercatat dalam Forbes Real Time Billionaires. Forbes memakai kekayaan bersih sebagai dasar perhitungan, yakni total aset setelah dikurangi seluruh liabilitas atau kewajiban.
Perhitungan Forbes mencakup perusahaan swasta, real estat, karya seni, hingga kepemilikan saham di perusahaan terbuka. Harga saham dan nilai tukar ikut diperhitungkan, sehingga nilai kekayaan pemilik saham emiten bisa bergerak dari waktu ke waktu.
Forbes juga menyatakan dokumentasi menjadi salah satu dasar penghitungan. Jika informasi atau dokumentasi suatu kekayaan tidak tersedia, aset tersebut dapat diabaikan.
Rumor Akuisisi BYAN dan Hitungan Nilai Transaksinya
Sorotan terhadap kekayaan Haji Isam muncul bersamaan dengan rumor rencana pengambilalihan sekitar 62,2 persen saham BYAN. Dengan harga penutupan BYAN pada 18 Agustus 2026 sebesar Rp 17.275 per saham, jumlah saham setara 62,2 persen mencapai sekitar 20,73 miliar saham.
Secara matematis, nilai seluruh saham tersebut berdasarkan harga pasar mencapai sekitar Rp 358,17 triliun. Angka itu bukan nilai transaksi akuisisi. Harga yang disepakati dalam pengambilalihan blok pengendali bisa berbeda dari harga saham di pasar reguler.
Bloomberg News sebelumnya melaporkan salah satu entitas bisnis yang dikendalikan Haji Isam mengajukan penawaran sekitar US$ 3 miliar atau sekitar Rp 52,53 triliun untuk mengambil alih sekitar 62 persen saham Bayan.
Manajemen Bayan menyatakan belum mengetahui adanya rencana transaksi tersebut.
"Perseroan tidak mengetahui adanya rencana transaksi pengambilalihan dan/atau akuisisi sekitar 62,2 persen saham perseroan oleh Haji Isam atau pihak yang terafiliasi dengan Haji Isam," demikian pernyataan manajemen dalam keterbukaan informasi kepada BEI.
Bayan juga menyatakan tidak mengetahui pihak yang terlibat, struktur transaksi, porsi saham yang akan dialihkan, maupun nilai transaksi yang dikabarkan. Hingga kini belum ada transaksi akuisisi BYAN yang dapat dikonfirmasi manajemen.
Angka Rp 62,14 triliun yang dikaitkan dengan Haji Isam tetap merupakan estimasi nilai pasar kepemilikan saham di tiga emiten, bukan gambaran keseluruhan kekayaan bersih pengusaha tersebut. Investasi mengandung risiko.