Pencarian

AS Konfirmasi Penempatan Senjata Antiksa di Orbit Bumi

Kamis, 17 September 2026 • 10:44:31 WIB
AS Konfirmasi Penempatan Senjata Antiksa di Orbit Bumi
Sekretaris Angkatan Udara AS Troy Meink mengonfirmasi penempatan senjata kendali antariksa di orbit Bumi.

NARAWARTA.COM — Amerika Serikat resmi mengakui menempatkan senjata kendali antariksa di orbit Bumi, sebuah pengakuan pertama dari pejabat pemerintah yang memicu kekhawatiran perlombaan senjata di luar angkasa. Sekretaris Angkatan Udara AS Troy Meink menyatakan senjata tersebut ditujukan untuk membela pasukan AS, tanpa merinci jumlah maupun waktu penempatannya. Langkah ini langsung ditentang China dan Rusia yang menyerukan demiliterisasi total ruang angkasa.

Meink menyatakan senjata tersebut akan digunakan untuk membela pasukan AS di Bumi. Ia tidak merinci kapan senjata itu ditempatkan, berapa jumlahnya, maupun tujuan spesifiknya.

Apa Itu Senjata Kendali Antariksa

Victoria Samson, chief director Space Security and Stability for Secure World Foundation, menilai kata kunci dari pernyataan Meink adalah "senjata" dalam konteks kendali antariksa. Menurutnya, kendali antariksa mencakup area misi yang diperlukan untuk memperebutkan dan mengendalikan domain luar angkasa.

"Itu kali pertama seorang pejabat pemerintah mengakui bahwa sebuah senjata yang benar-benar dirancang khusus telah ditempatkan di luar angkasa," ujar Samson kepada Al Jazeera.

Para ahli menduga senjata ini kemungkinan besar berupa perangkat pengacak (jammer) komunikasi berbasis antariksa, bukan senjata kinetik yang melancarkan serangan fisik. Senjata kinetik misalnya satelit bunuh diri yang dirancang menabrak satelit musuh, berpotensi menciptakan puing-puing berkecepatan tinggi yang berbahaya.

Dugaan Para Analis

Bleddyn Bowen, analis di Durham University Inggris, menduga senjata tersebut adalah semacam platform peperangan elektronik atau pengacak radio. Menurutnya, ini akan menjadi jenis senjata anti satelit non-destruktif yang variannya sudah ada di Bumi.

"Kita tak tahu persis bagaimana mekanisme senjata tersebut. Saya menduga itu adalah semacam peperangan elektronik atau platform pengacak radio," cetus Bowen.

Ia menambahkan kemungkinan yang lebih kecil adalah kendaraan pembunuh kinetik, yakni kendaraan yang akan melepas proyektil untuk menabrak satelit dan menghancurkannya.

Reaksi China dan Rusia

Kementerian Luar Negeri China menentang langkah AS tersebut. Mereka memperingatkan agar luar angkasa tidak dijadikan senjata, medan perang, maupun pemicu perlombaan senjata.

"Kami mendesak pihak AS untuk berhenti memperluas kemampuan militernya dan bersiap perang di luar angkasa," kata juru bicara kementerian tersebut, Guo Jiakun.

Rusia menyerukan agar luar angkasa tetap bebas dari senjata apa pun. "Kami mengandalkan konsolidasi internasional yang luas untuk terus bekerja menuju demiliterisasi total luar angkasa," ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Risiko Bagi Satelit dan Infrastruktur Sipil

Para ahli memperingatkan pengumuman ini dapat mengubah orbit Bumi menjadi domain militer. Peperangan di antariksa berpotensi mencakup saling serang terhadap satelit satu sama lain.

Satelit menyediakan layanan penting seperti GPS dan intelijen bagi pasukan militer di darat, serta infrastruktur sipil. Gangguan terhadap satelit berdampak langsung pada komunikasi, navigasi, dan layanan berbasis lokasi yang digunakan masyarakat luas.

Pengembangan Senjata Antiksa China dan Rusia

Laporan independen dari sejumlah kelompok riset mencatat China maupun Rusia juga mengembangkan beragam kemampuan kontra antariksa. Kemampuan ini dirancang untuk mengganggu, menonaktifkan, atau menghancurkan satelit dan sistem antariksa lainnya.

Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengidentifikasi kedua negara memiliki atau sedang mengembangkan senjata antariksa baik secara kinetik maupun non-kinetik.

Pengakuan AS ini menandai babak baru dalam militerisasi luar angkasa. Perlombaan senjata di orbit Bumi berpotensi mengancam infrastruktur satelit global yang menopang layanan komunikasi dan navigasi sehari-hari.

Sumber: inet.detik.com

Follow narawarta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks