NARAWARTA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan berpotensi berbalik menguat pada perdagangan Senin (5/10/2026) setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat jauh di bawah estimasi pasar. Nonfarm Payrolls September hanya menambah 29.000 lapangan kerja, dari perkiraan 90.000, sehingga probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada 28 Oktober turun tajam ke 22,1% dari 64,2% sepekan sebelumnya.
Bloomberg Technoz melaporkan, peluang rebound IHSG terbuka lebar setelah pasar keuangan domestik menerima sinyal pelonggaran tekanan dari bank sentral Amerika Serikat. Data CME FedWatch menunjukkan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada pertemuan 28 Oktober merosot ke 22,1%, turun signifikan dari 64,2% pada pekan sebelumnya.
Pemicu utamanya adalah rilis Nonfarm Payrolls September yang hanya mencatatkan penambahan 29.000 lapangan kerja, jauh di bawah estimasi pasar sebesar 90.000. Tingkat pengangguran AS juga merangkak naik ke level 4,2%, memperkuat argumen bahwa ekonomi Negeri Paman Sam mulai kehilangan tenaga.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Penentu Arah Suku Bunga
Angka payroll yang lemah mengubah kalkulasi pelaku pasar terhadap langkah The Fed. Sebelumnya, mayoritas pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi bulan ini. Kini ekspektasi itu menguap setelah data ketenagakerjaan mengecewakan.
Bagi pasar saham domestik, melunaknya ekspektasi kenaikan suku bunga AS menjadi angin segar. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi mereda, yang pada gilirannya memberi ruang bagi investor asing untuk kembali masuk ke aset berisiko di pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Mengapa IHSG Sensitif terhadap Sinyal The Fed
Pergerakan IHSG memiliki korelasi erat dengan arah kebijakan moneter AS. Ketika ekspektasi kenaikan suku bunga menguat, dolar AS cenderung menguat dan memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang. Sebaliknya, ketika tekanan itu mereda, minat investor terhadap aset berdenominasi rupiah kembali meningkat.
Data CME FedWatch menjadi acuan utama pelaku pasar dalam menakar probabilitas perubahan suku bunga. Penurunan probabilitas dari 64,2% ke 22,1% dalam sepekan menunjukkan perubahan sentimen yang cukup tajam di kalangan pelaku pasar global.
Faktor yang Perlu Dicermati Investor
Meski sinyal dari data tenaga kerja AS positif, pelaku pasar tetap perlu mencermati sejumlah faktor lain. Rilis data ekonomi AS berikutnya, termasuk inflasi dan pernyataan pejabat The Fed, masih bisa mengubah ekspektasi pasar dalam waktu singkat.
- Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada 28 Oktober: 22,1%, turun dari 64,2% sepekan sebelumnya
- Nonfarm Payrolls September: 29.000 lapangan kerja, jauh di bawah estimasi 90.000
- Tingkat pengangguran AS: naik ke 4,2%
Bagi investor di pasar domestik, kombinasi data tenaga kerja AS yang lemah dan turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi katalis jangka pendek untuk rebound IHSG. Namun, arah pergerakan indeks tetap bergantung pada respons pasar terhadap data-data lanjutan serta perkembangan global lainnya.