NARAWARTA.COM — Danantara Asset Management menargetkan jumlah BUMN yang dikelola menyusut jadi sekitar 200 perusahaan hingga akhir 2026, dari sebelumnya lebih dari 1.000 entitas. Percepatan ini ditempuh lewat merger, restrukturisasi, hingga penutupan perusahaan, dengan konsolidasi BUMN Karya sebagai prioritas tahap awal.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan pemerintah sudah menetapkan skema penataan tersebut. Menurut dia, empat perusahaan karya bakal digabung lebih dulu karena prosesnya paling gampang dibanding sektor lain.
"Merger PP, Adhi Karya, kemudian Brantas dan Nindya Karya ini akan kita selesaikan. Ini yang paling mudah untuk dilakukan mergernya," kata Dony di Tribrata Hotel, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Dony menyebut penggabungan PT PP, PT Adhi Karya, PT Brantas Abipraya, dan PT Nindya Karya menjadi tahap awal restrukturisasi. Setelah empat perusahaan itu rampung, Danantara baru menyasar perusahaan lain yang butuh penanganan lebih rumit.
Waskita dan Wika Jadi Pekerjaan Rumah Terberat
Dua nama yang bakal menyita perhatian adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Wijaya Wika (Persero) Tbk. Keduanya belum bisa langsung masuk tahap penggabungan.
Waskita dan Wika masih harus menjalani restrukturisasi, termasuk divestasi aset dan penurunan beban utang. Dony menyebut dua perusahaan itu sebagai satu-satunya yang jadi persoalan serius dalam konsolidasi BUMN Karya.
"Jadi, hanya Wika, Waskita yang akan menjadi persoalan karena membutuhkan effort kita untuk melakukan restrukturisasi, divestasi aset mereka, menurunkan hutangnya," jelasnya.
Kondisi berbeda ditunjukkan PT Hutama Karya (Persero). Menurut Dony, keuangan perusahaan pelat merah itu relatif sehat sehingga tidak masuk daftar yang butuh perlakuan khusus.
Target Prabowo: Maksimal 300 BUMN per Desember 2026
Langkah Danantara sejalan dengan target Presiden Prabowo Subianto yang ingin jumlah BUMN dipangkas drastis. Prabowo menargetkan Indonesia hanya memiliki paling banyak 300 BUMN hingga 31 Desember 2026.
"Kita telah menutup 290 BUMN. Pada Desember 2026, kita targetkan hanya akan memiliki paling banyak 300 BUMN. 750 BUMN kita akan tutup," ujar Prabowo saat Sidang Tahunan MPR, Jumat (14/8/2026).
Prabowo menegaskan pemerintah hanya mempertahankan perusahaan negara yang produktif dan mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Menurut dia, perampingan ini merupakan bagian dari restrukturisasi korporasi berskala besar.
"Ini mungkin adalah restrukturisasi korporasi terbesar di dunia," kata dia.
Efisiensi Rp 50 Triliun dari Gaji Direksi hingga Sewa Gedung
Selain menyederhanakan struktur perusahaan negara, pemerintah memperkirakan efisiensi dari restrukturisasi ini bisa menghemat biaya hingga Rp 50 triliun. Penghematan itu berasal dari pemangkasan gaji direksi dan komisaris hingga sewa gedung.
"Kita telah hemat biaya over head Rp 50 triliun dari gaji direksi, komisaris, sewa gedung," kata Prabowo.
Dengan target akhir tahun tinggal 200 perusahaan yang dikelola Danantara, konsolidasi BUMN 2026 tidak hanya soal mengurangi jumlah entitas. Pemerintah juga ingin memperbaiki struktur usaha, menekan biaya operasional, menyelesaikan persoalan utang dan aset, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan negara.
Bagi pelaku pasar dan mitra kerja BUMN Karya, tahapan merger empat perusahaan menjadi sinyal paling konkret yang bisa dicermati dalam waktu dekat. Sementara Waskita dan Wika masih menyisakan pekerjaan rumah restrukturisasi yang menentukan apakah keduanya ikut masuk skema penggabungan atau berjalan sendiri lebih lama.