Pencarian

BMKG Ungkap Skenario Terburuk Megathrust Aceh-Andaman M9,2 dan Tsunami 10 Meter

Kamis, 24 September 2026 • 14:03:02 WIB
BMKG Ungkap Skenario Terburuk Megathrust Aceh-Andaman M9,2 dan Tsunami 10 Meter
BMKG memetakan skenario terburuk gempa megathrust segmen Aceh-Andaman dengan magnitudo hingga M9,2.

NARAWARTA.COMBMKG memetakan skenario terburuk gempa megathrust segmen Aceh-Andaman dengan kekuatan hingga M9,2 yang berpotensi memicu tsunami setinggi lebih dari 10 meter di sejumlah titik Pantai Barat Sumatera. Pemetaan ini mencakup 14 segmen megathrust di Indonesia, masing-masing dengan magnitudo maksimum yang berbeda-beda. BMKG menegaskan skenario ini bukan prediksi waktu terjadinya gempa, melainkan dasar perencanaan mitigasi bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memublikasikan skenario terburuk gempa megathrust pada segmen Aceh-Andaman. Kekuatan gempa dalam skenario itu dapat mencapai M9,2 dengan guncangan maksimal hingga VIII MMI yang berpotensi merusak bangunan.

Dampak lanjutannya berupa tsunami dengan ketinggian di garis pantai yang bervariasi. BMKG menyebut wilayah Pantai Barat Sumatera berpotensi mengalami tsunami lebih dari 3 meter, dan di beberapa lokasi ketinggiannya bisa melampaui 10 meter.

"Wilayah Pantai Barat Sumatera memiliki potensi ketinggian tsunami di garis pantai hingga lebih dari 3 meter dan di beberapa lokasi hingga lebih dari 10 meter," tulis BMKG di akun Instagram resminya pada Rabu (23/9).

Apa Itu Megathrust dan Mengapa Indonesia Rentan

Megathrust adalah sumber gempa di zona subduksi, tempat dua lempeng tektonik bertemu dan saling bergesekan pada kedalaman dangkal. Kedalamannya umumnya kurang dari 50 kilometer.

Zona ini mampu menyimpan energi besar dan melepaskannya sebagai gempa kuat dengan bidang patahan yang luas. Posisi Indonesia di wilayah tektonik aktif membuat sejumlah zona subduksi berpotensi menjadi sumber gempa besar.

Daftar 14 Segmen Megathrust dan Magnitudo Maksimumnya

BMKG mencatat ada 14 segmen megathrust di Indonesia dengan magnitudo maksimum yang cukup tinggi. Berikut rinciannya:

  • Aceh-Andaman: M9,2
  • Nias-Simeulue: M8,7
  • Batu: M7,8
  • Mentawai-Siberut: M8,9
  • Mentawai-Pagai: M8,9
  • Enggano: M8,9
  • Jawa: M9,1
  • Jawa bagian barat: M8,9
  • Jawa bagian timur: M8,9
  • Sumba: M8,9
  • Sulawesi Utara: M8,5
  • Palung Cotabato: M8,3
  • Filipina Selatan: M8,2
  • Filipina Tengah: M8,1

Bukan Prediksi, Tapi Dasar Mitigasi

BMKG menegaskan informasi potensi gempa megathrust ini bukan prediksi bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat. Hingga kini, BMKG belum bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi.

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat mengenali potensi gempa dan tsunami di wilayah masing-masing. Langkah mitigasi yang disarankan mencakup penyiapan tas siaga bencana, pengenalan jalur dan titik evakuasi, serta latihan kesiapsiagaan bersama keluarga dan komunitas.

Masyarakat juga diminta memastikan bangunan memenuhi prinsip bangunan tahan gempa. Informasi yang belum terverifikasi sebaiknya tidak disebarkan.

Sistem Peringatan Dini yang Disiapkan BMKG

Untuk mempercepat deteksi, BMKG telah menyiapkan 533 sensor seismograf. Sensor ini terhubung dengan sistem peringatan dini tsunami InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System).

Sistem tersebut dirancang mendeteksi gempa secara cepat dan menyebarkan informasi peringatan kepada masyarakat luas. Kecepatan informasi menjadi kunci karena tsunami bisa tiba dalam waktu singkat setelah guncangan kuat.

Langkah yang Harus Dilakukan Saat Gempa Kuat

Masyarakat diimbau mewaspadai gempa dengan guncangan yang dirasakan lebih dari 30 detik atau setara 20 hitungan. Kondisi itu dapat menimbulkan tsunami dalam waktu singkat.

Jika guncangan sekuat itu terjadi, langkah yang perlu dilakukan:

  1. Jauhi pantai dan tepi sungai.
  2. Cari informasi terkait apa yang terjadi.
  3. Pantau peringatan dini tsunami melalui TV nasional, radio daerah, atau pengumuman di sekitar wilayah kejadian.
  4. Jika mendengar sirene, kentongan, atau alat peringatan lainnya, segera evakuasi ke tempat aman.
  5. Jika tidak mengetahui lokasi evakuasi, larilah sejauh mungkin dari pantai dan naik ke tempat yang lebih tinggi.

Pemetaan skenario terburuk ini menjadi acuan bagi pemerintah daerah di sepanjang Pantai Barat Sumatera untuk menyiapkan jalur evakuasi dan sosialisasi rutin. Bagi pelaku bisnis di kawasan pesisir, kesiapan mitigasi ikut menentukan keberlanjutan operasional saat bencana terjadi.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow narawarta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks