NARAWARTA.COM — BMKG memprakirakan puncak musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026, dipicu El Nino kategori sangat kuat. Durasi kemarau tahun ini mencapai tiga hingga tujuh bulan, dengan 437 Zona Musim atau 48,77 persen luas daratan Indonesia berpotensi mengalami periode kering lebih panjang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan puncak musim kemarau di sejumlah daerah belum berakhir. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut kondisi kering ini berpotensi berlanjut hingga beberapa pekan ke depan seiring menguatnya El Nino di Samudra Pasifik.
"Puncak musim kemarau diprakirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026," kata Faisal dalam keterangan di laman resmi BMKG, Kamis (17/9).
Durasi Kemarau per Wilayah
Panjang musim kemarau tahun ini tidak seragam. BMKG mencatat durasinya berkisar tiga sampai tujuh bulan, bergantung pada posisi geografis masing-masing daerah.
Sebanyak 437 Zona Musim (ZOM) yang mencakup 48,77 persen luas daratan Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau lebih panjang dari biasanya. Zona-zona ini tersebar di berbagai provinsi dan menjadi prioritas pemantauan.
Pasokan Uap Air Terbatas
Pada Dasarian III September hingga Dasarian II Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah diprakirakan berada di kategori rendah hingga menengah, sekitar 0-150 mm per dasarian. Angka ini menunjukkan pasokan uap air untuk pembentukan awan hujan masih minim.
El Nino kategori sangat kuat disebut menjadi penyebab utama berkurangnya suplai kelembapan ke wilayah Indonesia. Kondisi kering diperkirakan bertahan di sejumlah daerah selama periode tersebut.
Risiko Karhutla Meningkat
Faisal menegaskan upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan mitigasi perlu terus diperkuat hingga memasuki periode musim hujan. Sejumlah daerah saat ini masih mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
El Nino yang sangat kuat berpotensi meningkatkan risiko karhutla hingga beberapa pekan ke depan. Wilayah yang sudah mengalami defisit hujan menjadi paling rentan.
El Nino Bertemu IOD Positif
El Nino yang berkembang kuat di Samudra Pasifik berpotensi bersinggungan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia sekitar September ini. Peneliti memperkirakan pertemuan kedua anomali iklim tersebut dapat mengacaukan cuaca global dan regional.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan ada 90 persen kemungkinan tahun 2026 menghasilkan El Nino terkuat dalam 150 tahun terakhir, yang bertepatan dengan IOD positif.
Ahli pemodelan iklim Institut Meteorologi Tropis India, Ankur Srivastava, menjelaskan sekitar sepertiga kejadian IOD positif dipicu El Nino yang muncul lebih lambat di musim panas India, seperti yang terjadi tahun ini. IOD sendiri merupakan perbedaan suhu antara Samudra Hindia tropis bagian barat dan timur, yang memengaruhi curah hujan dan angin di negara-negara sekitar Samudra Hindia.
Dampak ke Asia Selatan
Srivastava menyebut dampak pertemuan El Nino dan IOD positif di Asia Selatan bergantung pada kekuatan masing-masing fenomena dan ada tidaknya fenomena cuaca lain pada periode yang sama. Monsun India sempat mengalami defisit curah hujan akibat El Nino, khususnya selama Juli dan Agustus.
Jika IOD positif berkembang cukup kuat, fenomena ini dapat memompa kelembapan dan menetralkan defisit curah hujan tersebut di akhir musim. Namun, bila IOD positif tidak menguat selama akhir musim panas, India berisiko mengalami periode kekeringan berkepanjangan.
Departemen Meteorologi India mengonfirmasi efek El Nino telah mendominasi sejak awal monsun, sehingga potensi pemulihan dari IOD positif mungkin terbatas pada akhir musim saja.
"Himalaya dan kaki bukitnya tetap sangat rentan terhadap curah hujan dan tanah longsor yang berdampak tinggi, bahkan di musim yang lebih kering dari rata-rata," kata Srivastava, melansir Nature, Selasa (8/9).
Selain defisit curah hujan, El Nino yang sangat kuat dapat mengakibatkan jeda monsun yang panjang. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir bandang dan tanah longsor jika hujan intensitas tinggi mendadak turun.