Pencarian

Anak Berbohong: Kalimat Tepat yang Orang Tua Bisa Ucapkan

Senin, 14 September 2026 • 13:44:01 WIB
Anak Berbohong: Kalimat Tepat yang Orang Tua Bisa Ucapkan
Orang tua mendampingi anak saat berbicara di rumah.

NARAWARTA.COM — Menangkap basah anak sedang berbohong sering membuat orang tua terjebak antara ingin marah atau pura-pura tidak tahu. Padahal, cara Anda merespons di detik-detik itu bisa menentukan apakah ia belajar jujur atau justru semakin lihai menutupi kesalahan.

Sejak Usia Berapa Anak Mulai Berbohong?

Kebohongan pertama biasanya muncul di sekitar usia 3 tahun, meski setiap anak bisa berbeda. Di tahap ini, anak masih belajar membedakan imajinasi dan kenyataan, serta memahami konsep benar dan salah.

Karena itu, kebohongan di usia batita sering kali masih bersifat bercanda, bukan upaya manipulasi. Memasuki usia 5–6 tahun, anak mulai paham bahwa berbohong adalah perbuatan yang salah. Barulah di usia sekolah, ia bisa mempertimbangkan konsekuensi sebelum berkata tidak jujur.

Kalimat yang Sebaiknya Diucapkan Saat Anak Ketahuan Berbohong

Psikiater klinis asal Amerika Serikat, Tamir Aldad, merekomendasikan satu kalimat yang bisa Anda pakai ketika sudah jelas anak sedang berbohong:

"Ayah/Bunda sudah tahu apa yang terjadi. Ayah/Bunda hanya ingin mendengarnya langsung dari kamu."

Kalimat ini menempatkan anak pada posisi yang tidak perlu memilih antara mengaku atau menyangkal. Ia hanya diminta berkata jujur kepada orang tua yang sudah tahu faktanya.

"Kalimat ini menghilangkan kesan bahwa anak sedang dijebak. Orang tua tidak sedang menguji mereka, tetapi mengajak mereka untuk jujur," ujar Aldad, dikutip dari Parade.

Kalimat yang Sebaiknya Dihindari

Psikolog klinis Jenny Yip, penulis buku Hello Baby, Goodbye Intrusive Thoughts, mengingatkan satu pertanyaan yang justru kontraproduktif: "Apakah kamu melakukan ini?"

"Pertanyaan seperti ini dapat membuat anak merasa sedang dijebak. Begitu anak merasa sedang diuji, mereka berhenti memikirkan kejujuran dan mulai memikirkan cara untuk menghindar," kata Yip.

Sebagai gantinya, sampaikan apa yang Anda lihat tanpa menghakimi. Misalnya: "Bunda melihat lampunya rusak. Bantu Bunda memahami apa yang terjadi." Cara ini membuka ruang bagi anak untuk menjelaskan, bukan memaksanya menyangkal.

Mengapa Anak Memilih Berbohong?

Ada tiga pemicu utama yang paling sering muncul menurut para psikolog:

  • Takut dihukum. Menyangkal terasa lebih aman daripada menerima konsekuensi. Sebagian besar kebohongan anak sebenarnya bukan untuk memanipulasi, melainkan menghindari hukuman.
  • Tidak mau mengecewakan orang tua. Anak yang berperasaan sensitif bisa menyembunyikan kesalahan karena takut membuat orang tuanya kecewa.
  • Kesulitan menghadapi rasa malu. Anak yang merasa malu cenderung menyembunyikan kesalahan, sementara anak yang merasa diterima lebih berani berkata jujur.

Bagaimana Otak Anak Bekerja Saat Berbohong?

Seiring perkembangan otak, anak belajar mengendalikan impuls, mengatur emosi, dan memikirkan konsekuensi. Namun, ketika ia merasa terancam—misalnya takut hukuman atau kehilangan kedekatan dengan orang tua—bagian otak yang mengatur respons bertahan hidup bisa mengambil alih sebelum kemampuan menalar bekerja.

Itulah sebabnya Aldad menekankan bahwa anak secara alami lebih memilih menghindari hukuman jangka pendek daripada memikirkan konsekuensi jangka panjang. Jika pola ini dibiarkan, anak perlahan merasa selalu ditempatkan pada posisi yang salah, bukan diajak berkata jujur.

Yang Perlu Diingat Orang Tua

Kejujuran tidak tumbuh instan. Ia terbentuk dari contoh langsung orang tua dan nilai yang diperlihatkan sehari-hari—bukan dari interogasi setelah kesalahan terjadi. Saat anak merasa aman untuk mengaku, ia belajar bahwa jujur selalu jadi pilihan terbaik.

Sumber: haibunda.com

Follow narawarta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks