NARAWARTA.COM — Di banyak rumah tangga Indonesia, ibu rajin mencatat jadwal posyandu, tapi keputusan akhir soal imunisasi bayi sering ada di tangan ayah. Masalahnya, ayah justru lebih sering menyerap informasi kesehatan dari grup WhatsApp dan media sosial tanpa verifikasi.
Ketika anak demam ringan atau rewel setelah imunisasi, ayah yang minim pemahaman bisa langsung menyimpulkan vaksin berbahaya. Akibatnya, instruksi menolak imunisasi pun keluar dari kepala keluarga.
Mengapa 1.000 Hari Pertama Begitu Krusial
Periode 1.000 hari pertama kehidupan, sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun, adalah fase yang tidak bisa diulang. Nutrisi dan perlindungan dari infeksi di masa ini jadi fondasi tumbuh kembang anak seumur hidup.
Ada tiga pilar perilaku sehat yang jadi kunci di periode emas ini:
- Imunisasi rutin lengkap — melindungi anak dari penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin (PD3I)
- Cuci tangan pakai sabun — benteng paling sederhana untuk mencegah diare dan pneumonia
- Gizi seimbang dan MPASI — memastikan kecukupan makro dan mikronutrisi harian anak
Ketiganya butuh partisipasi aktif ayah dan ibu, bukan hanya salah satu pihak.
Kesenjangan Informasi antara Ibu dan Ayah
Di lapangan, pola ini berulang. Ibu aktif bertanya ke tenaga kesehatan di posyandu atau kader desa. Ayah lebih banyak menyerap narasi dari media sosial dan obrolan informal, sering tanpa dicek dulu kebenarannya.
Ketika anak mengalami KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) seperti demam ringan atau rewel, ayah yang tidak dibekali pemahaman memadai cenderung panik. Kesimpulannya: imunisasi membahayakan anak. Dari situ, larangan imunisasi pun muncul.
Padahal, reaksi ringan pasca imunisasi adalah tanda tubuh anak sedang membangun kekebalan. Bukan tanda bahaya.
Program yang Menyasar Ayah Langsung
Program Keluarga SIGAP, yang didukung konsorsium donor global seperti GAVI, Unilever, dan The Power of Nutrition, menyadari celah ini. Mereka menggelar kegiatan seperti Minggu Bersama Ayah SIGAP di area Car Free Day untuk meluruskan persepsi keliru soal imunisasi.
Pendekatan langsung ke sosok ayah jadi terobosan penting. Sebab, selama ini edukasi kesehatan anak lebih banyak menyasar ibu.
Dalam diskusi di kanal YouTube Raditya Dika yang diunggah awal 2026, hadir Ardi (Team Leader Program Keluarga SIGAP), Bu Rita (Kepala Puskesmas Karawang, Sukabumi), serta komedian Musdalifah Basri. Diskusi tersebut membedah realitas lapangan: kegagalan pencegahan stunting tidak semata dipicu keterbatasan akses medis, melainkan persepsi keliru di tingkat rumah tangga.
Peran Kader Posyandu dan Dana Desa
Penurunan angka stunting nasional tidak bisa bergantung selamanya pada program donor yang punya tenggat waktu. Penguatan kemandirian lokal lewat kader posyandu dan pemanfaatan dana desa untuk program kesehatan anak jadi fondasi yang harus diperjuangkan.
Mendidik anak butuh ekosistem yang sehat. Tanpa sinergi di rumah tangga, di mana ayah dan ibu berbagi tanggung jawab atas kesehatan dan literasi nutrisi anak, upaya melepaskan generasi penerus dari stunting akan terus menghadapi tantangan berat.
Kapan Perlu Konsultasi ke Tenaga Kesehatan
Segera bawa anak ke puskesmas atau dokter jika demam pasca imunisasi tidak turun dalam 48 jam, anak kejang, atau tampak lemas berlebihan. Untuk pertanyaan soal jadwal imunisasi yang terlewat, konsultasikan ke bidan atau dokter anak terdekat.
Langkah kecil seperti memverifikasi informasi kesehatan sebelum mempercayainya bisa mencegah keputusan yang merugikan tumbuh kembang anak. Libatkan ayah dalam setiap kunjungan posyandu, agar keputusan kesehatan anak jadi tanggung jawab bersama.