NARAWARTA.COM — Anak yang sudah dewasa punya pekerjaan dan keluarga sendiri, tapi sebagian orang tua justru menjadikannya sandaran emosi utama. Kenali 8 tanda ketergantungan emosional orang tua pada anak, lengkap dengan penjelasan psikoterapis Sharon Martin, LCSW, agar ibu bisa memahami batas sehat dalam hubungan ini.
Anak yang sudah dewasa biasanya punya rutinitas, pekerjaan, dan keluarga sendiri. Hubungan dengan orang tua pun bergeser, dari pengasuhan menjadi lebih setara seperti pertemanan. Perubahan inilah yang kadang membuat batas antara kasih sayang dan ketergantungan emosional sulit dikenali.
Orang tua mungkin tidak lagi mengatur hidup anak, tetapi mulai menjadikan anak sebagai satu-satunya tempat bersandar secara emosional. Pola ini bisa berkaitan dengan cara mereka sendiri diasuh sejak kecil. Berikut tanda-tandanya.
1. Anak Jadi Orang Pertama yang Dihubungi
Setiap ada kabar, baik atau buruk, anak selalu jadi orang pertama yang dihubungi. Termasuk untuk hal-hal kecil yang terjadi sehari-hari.
Sesekali berbagi cerita tentu wajar. Namun jika anak menjadi satu-satunya tujuan bercerita, ini bisa jadi tanda orang tua terlalu bergantung secara emosional padanya.
2. Suasana Hati Ikut Bergantung pada Anak
Orang tua yang terlalu bergantung secara emosional bisa ikut terbawa suasana hati anak. Ketika anak bercerita sedang menjalani minggu yang berat, orang tua ikut stres sampai suasana hatinya terganggu.
Psikoterapis Sharon Martin, LCSW, menyebut pola ini sebagai tanda batasan emosional yang mulai kabur. Orang tua baru merasa tenang jika anak juga merasa baik-baik saja, seolah emosi keduanya menyatu.
3. Tidak Lagi Membuat Rencana di Luar Jadwal Anak
Kegiatan yang tidak melibatkan anak perlahan ditinggalkan. Waktu luang lebih banyak dihabiskan dengan menyesuaikan jadwal anak.
Penelitian tentang kesepian pada orang dewasa menunjukkan bahwa lingkungan pertemanan yang menyusut dapat meningkatkan risiko merasa terisolasi. Ketika anak menjadi satu-satunya orang yang sering ditemui, setiap pertemuan terasa sangat penting. Sebaliknya, waktu tanpa anak bisa membuat orang tua merasa ada yang hilang.
4. Butuh Persetujuan Anak untuk Keputusan Pribadi
Saat ingin menjual mobil, ikut komunitas jalan kaki, atau menemui dokter baru, orang tua selalu meminta pendapat anak. Seolah keputusan pribadinya butuh restu.
Kebiasaan ini menandakan perubahan peran. Setelah bertahun-tahun mengambil keputusan untuk anak, kini orang tua yang justru membutuhkan persetujuan dari anak.
5. Sering Menyinggung Kesibukan Anak
Kalimat seperti "Bunda tahu kamu sibuk" atau "Bunda tidak mau mengganggu" mungkin terdengar pengertian. Namun jika terlalu sering diucapkan, kalimat itu bisa terasa seperti keluhan.
Anak pun bisa menangkap pesan bahwa dirinya dianggap tidak meluangkan cukup waktu untuk orang tua.
6. Memberi Kode agar Diajak Bertemu
Alih-alih mengajak bertemu langsung, orang tua mungkin hanya memberi kode, misalnya mengatakan tidak punya kegiatan di akhir pekan.
Cara ini sering jadi bentuk perlindungan diri. Mengajak secara langsung berarti harus siap menerima penolakan, dan itu terasa berat.
7. Tersinggung Saat Anak Memilih Keluarga Pasangan
Ketika anak menghabiskan waktu bersama keluarga pasangannya, misalnya saat liburan atau makan bersama, orang tua bisa merasa sedih. Padahal mereka paham anak perlu membagi waktu.
Perasaan itu bukan sekadar soal acara yang dilewatkan. Bisa jadi muncul karena orang tua merasa posisinya dalam hidup anak berkurang.
8. Mulai Menghitung Semua yang Dilakukan untuk Anak
Pernah menjaga cucu, membantu biaya perbaikan mobil, atau membawakan makanan. Jika bantuan-bantuan itu mulai diingat dan dihitung satu per satu, ini bisa jadi tanda adanya harapan untuk mendapat lebih banyak perhatian.
Kapan Perlu Mencari Bantuan
Ketergantungan emosional yang berlarut bisa membuat kedua pihak sama-sama lelah. Jika pola ini sudah mengganggu hubungan dengan pasangan, memicu rasa bersalah berkepanjangan pada anak, atau membuat orang tua makin menarik diri dari lingkungan sosial, konsultasi dengan psikolog bisa membantu.
Terapis dapat membantu memetakan batasan yang sehat tanpa harus memutus kedekatan. Untuk ibu yang merasa terjepit antara mengurus keluarga sendiri dan menemani orang tua, dukungan profesional juga bisa jadi ruang aman untuk bercerita.
Mengenali tanda-tanda ini bukan berarti menilai orang tua, melainkan langkah awal menjaga hubungan tetap hangat. Kedekatan yang sehat memberi ruang bagi kedua pihak untuk tumbuh, tanpa ada yang merasa kehilangan dirinya sendiri.