NARAWARTA.COM — Kasus kekerasan yang melibatkan anak di Kota Bogor menunjukkan pola baru yang mengkhawatirkan. Jika sebelumnya banyak terjadi pada remaja usia 15–17 tahun, kini KPAID Kota Bogor menemukan anak usia dini turut terlibat, bahkan ada yang berusia 6 tahun.
Temuan ini menjadi sinyal bahwa penguatan pengasuhan dan perlindungan anak tidak bisa lagi dimulai saat anak menginjak sekolah dasar. Ibu perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana mencegahnya sejak dini.
Apa yang Diungkap KPAID Kota Bogor
Data terbaru dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bogor menunjukkan pergeseran tren kasus kekerasan yang melibatkan anak. Kelompok usia pelaku yang dulunya didominasi remaja 15–17 tahun, kini mencakup anak-anak yang jauh lebih muda.
Yang paling mengejutkan, terdapat anak berusia 6 tahun yang disebut sebagai terduga pelaku. Usia ini seharusnya masih berada di fase bermain dan mengenal dunia, bukan terlibat dalam persoalan kekerasan.
Kondisi tersebut dinilai menjadi peringatan penting bagi semua pihak. Penanganan tidak cukup hanya pada kasus yang sudah terjadi, tetapi juga pada upaya pencegahan agar anak tidak terlibat kekerasan sejak usia dini.
Tanggapan DPRD Kota Bogor
Wakil Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kota Bogor, Endah Purwanti, menyoroti persoalan ini. Menurutnya, pendampingan tidak boleh hanya diberikan kepada korban.
"Penanganan tidak boleh berhenti pada pendampingan korban, tetapi juga wajib menyentuh anak yang menjadi pelaku melalui pendekatan edukatif dan psikologis," kata Endah, Kamis, 10 September 2026.
Pendekatan yang dimaksud adalah dengan menyesuaikan cara penanganan pada kondisi dan perkembangan anak. Anak yang menjadi terduga pelaku tetap perlu dibimbing, bukan dihakimi dengan cara orang dewasa.
Pencegahan Dimulai dari PAUD
Endah menilai edukasi di lingkungan pendidikan usia dini memegang peran besar. Di PAUD, anak bisa dikenalkan pada batasan tubuh, interaksi sosial yang aman, serta cara melindungi diri.
Metode pembelajarannya pun harus disesuaikan dengan perkembangan anak. Tidak bisa menggunakan pendekatan yang terlalu berat atau menakutkan.
Semakin dini anak memahami batasan diri dan orang lain, semakin kecil risiko mereka terlibat dalam situasi kekerasan, baik sebagai korban maupun pelaku.
Peran Orang Tua dan Ketahanan Keluarga
Selain sekolah, keluarga menjadi fondasi utama dalam mencegah anak terlibat kekerasan. Endah menekankan pentingnya peran orang tua memperkuat ketahanan keluarga melalui program parenting.
"Peran orang tua untuk memperkuat ketahanan keluarga melalui program parenting. Perceraian, lingkungan tidak kondusif, dan minimnya komunikasi dalam rumah tangga diidentifikasi sebagai pemicu utama masalah anak," jelasnya.
Tiga faktor yang disebutkan, yakni perceraian, lingkungan yang tidak kondusif, dan komunikasi rumah tangga yang minim, sering kali luput dari perhatian. Padahal ketiganya bisa berdampak langsung pada perilaku anak di luar rumah.
Komunikasi hangat setiap hari, misalnya menanyakan bagaimana perasaan anak setelah pulang sekolah, bisa menjadi langkah kecil yang berdampak besar. Anak yang merasa didengar cenderung lebih mampu mengelola emosi dan menghindari perilaku agresif.
Kapan Ibu Perlu Mencari Bantuan Profesional
Ada kalanya ibu perlu melibatkan ahli, misalnya psikolog anak atau konselor keluarga. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain anak sering menunjukkan agresi fisik, sulit mengendalikan emosi, atau menarik diri dari interaksi sosial.
Jika anak pernah menjadi korban atau menyaksikan kekerasan, pendampingan psikologis sebaiknya tidak ditunda. Semakin cepat ditangani, semakin baik pula proses pemulihannya.
Ibu juga bisa berkonsultasi dengan KPAID atau puskesmas terdekat yang memiliki layanan kesehatan jiwa anak. Jangan ragu mencari bantuan, karena melindungi anak adalah tanggung jawab bersama.
Kasus anak 6 tahun yang disebut sebagai terduga pelaku kekerasan di Kota Bogor menjadi pengingat bahwa pengasuhan dan edukasi sejak dini tidak bisa ditawar. Mulai dari mengenalkan batasan tubuh di rumah, membangun komunikasi hangat, hingga mendukung program parenting di lingkungan sekitar, semua itu adalah investasi untuk masa depan anak.