NARAWARTA.COM — Mazda CX-6e punya fitur unik yang jarang ditemui di mobil listrik lain, yaitu speaker eksternal yang bisa memutar peringatan hingga suara pengemudi sendiri. Fitur ini dirancang untuk keselamatan pejalan kaki dan pesepeda, tapi siapa sangka justru membuka celah penyalahgunaan yang cukup menggelikan. Mobil listrik rakitan China ini sudah dijual di Australia, dan sejumlah jurnalis di sana langsung menguji seberapa longgar pengamanan sistem audio tersebut.
Kehadiran mobil listrik memang membawa masalah tersendiri di jalan raya. Suara motor listrik yang nyaris senyap membuat pejalan kaki dan pesepeda sering tidak sadar ada kendaraan di dekat mereka. Produsen mobil pun berlomba menambahkan suara buatan, mulai dari nada mundur sampai dengung low-speed. Mazda CX-6e mengambil pendekatan yang sedikit berbeda, dan hasilnya justru memicu pertanyaan soal etika berkendara.
Speaker Eksternal: Fitur Keselamatan yang Bisa Disalahgunakan
CX-6e adalah crossover listrik yang memadukan desain khas Mazda dengan powertrain buatan China. Untuk memenuhi standar keselamatan, mobil ini dibekali speaker eksternal yang bisa memutar serangkaian peringatan yang sudah diprogram sebelumnya.
Pengemudi tinggal menekan tombol, dan pesan seperti "Please look up from your phone" atau "You go ahead" akan terdengar keluar dari mobil. Niatnya jelas baik, terutama untuk situasi di persimpangan atau parkiran yang ramai.
Keyboard di Dalam Kabin: Bisa Ketik Apa Saja
Masalahnya muncul ketika sistem ini dilengkapi keyboard di dalam kabin. Pengemudi bisa mengetik pesan apa pun, lalu sistem akan membacakannya dengan suara monoton ke luar mobil. Tidak ada filter, tidak ada sensor kata kasar.
Fitur lain yang tak kalah kontroversial adalah kemampuan merekam suara pengemudi dan menyiarkannya langsung layaknya sistem pengeras suara keliling. Kombinasi keduanya membuat CX-6e secara teknis bisa berubah menjadi alat untuk memaki pengguna jalan lain tanpa perlu membuka jendela.
Respons Jurnalis Australia: Pengamanannya Nyaris Tidak Ada
CX-6e juga dijual di Australia, dan begitu tiba di sana, beberapa jurnalis otomotif setempat penasaran menguji seberapa ketat batasan sistem audio eksternal ini. Hasilnya, menurut laporan yang beredar, hampir tidak ada pembatasan berarti.
Mereka bisa mengetik kalimat makian, memutar umpatan paling kasar, hingga merekam suara sendiri yang sedang memarahi pengendara lain. Semua berjalan tanpa hambatan. Sistem tidak memblokir kata tertentu, tidak membatasi panjang pesan, dan tidak memberi peringatan etika.
Mengapa Fitur Ini Berisiko di Jalan Raya
Klaxon biasa saja sudah sering disalahgunakan untuk melampiaskan emosi di jalan. Memberi pengemudi pengeras suara yang bisa mengucapkan kalimat apa pun jelas memperbesar potensi konflik antar pengguna jalan.
Bayangkan situasi macet di lampu merah, lalu dari mobil sebelah terdengar suara yang mengejek cara berkendara Anda. Eskalasi konflik jadi lebih mudah terjadi, dan risiko berujung pada keributan fisik bukan hal yang mustahil.
Di sisi lain, fitur ini juga bisa berguna untuk komunikasi sopan, seperti mempersilakan orang menyeberang atau memberi tahu pengendara lain bahwa lampu remnya mati. Sayangnya, tidak semua orang bisa dipercaya memakai alat komunikasi publik dengan bijak.
Kemungkinan Perbaikan Lewat Update Perangkat Lunak
Mazda diperkirakan akan merilis patch over-the-air jika keluhan soal penyalahgunaan fitur ini terus bertambah. Pembatasan bisa berupa daftar kata yang dilarang, pembatasan durasi pesan, atau penonaktifan fungsi rekam suara.
Namun sampai update itu benar-benar hadir, pemilik CX-6e di Australia dan China masih bisa menikmati kebebasan penuh sistem audio eksternalnya. Buat sebagian orang mungkin lucu, tapi buat pengguna jalan lain, ini bisa jadi gangguan yang menyebalkan.
Catatan untuk Calon Pembeli di Indonesia
CX-6e belum dipastikan masuk pasar Indonesia, dan Mazda Indonesia juga belum memberi sinyal soal peluncurannya. Kalau nanti masuk, ada baiknya fitur speaker eksternal ini dikaji ulang menyesuaikan budaya berkendara di sini.
Di jalanan Indonesia yang sudah cukup padat dan emosional, menambah pengeras suara yang bisa mengucapkan apa saja bukan ide yang sepenuhnya aman. Fitur keselamatan sebaiknya tetap fokus pada fungsi dasarnya, bukan berubah jadi alat komunikasi bebas yang rentan disalahgunakan.