PANGKALAN BUN — Perpanjangan status tanggap darurat itu diambil karena masih maraknya kejadian, terutama di Kecamatan Arut Selatan dan Kumai yang mencatat luasan terbanyak. Bupati Kobar Nurhidayah di Pangkalan Bun, Jumat, menyebut kedua kecamatan itu menjadi wilayah dengan data kejadian dan luasan karhutla terbesar.
“Dari jumlah tersebut, Kecamatan Arut Selatan dan Kumai masih menjadi wilayah dengan data kejadian dan luasan terbanyak kejadian karhutla di wilayah Kobar,” katanya. Sebelumnya status tanggap darurat telah dua kali diperpanjang, dan perpanjangan ketiga berlaku mulai 4 hingga 18 September 2026 untuk memastikan seluruh sumber daya tetap siaga.
Tujuh Titik Api Aktif, Titik Terbesar di Jalur Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama
Nurhidayah mengungkapkan, saat ini masih terdapat tujuh titik karhutla aktif yang ditangani tim gabungan. Titik terbesar berada di ruas Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama. “Kurang lebih sebanyak 400 personel gabungan dikerahkan ke lapangan untuk melakukan penanganan,” ungkapnya.
Personel gabungan tersebut terdiri atas perangkat daerah, TNI melalui Kodim, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) tingkat desa. Mereka bekerja memadamkan api sekaligus menangani dampak kabut asap yang menyelimuti sebagian wilayah Kobar.
Penanganan 24 Jam: 2.000 Masker Disalurkan dan Dapur Umum Beroperasi
Pemkab Kobar memastikan penanganan karhutla dan pelayanan kepada warga terdampak kabut asap terus berjalan tanpa jeda. “Penanganan karhutla dan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak kabut asap terus kami jalankan penuh, selama 24 jam, tanpa jeda. Berbagai langkah penanganan akan terus diperkuat hingga kondisi benar-benar terkendali di lapangan,” ucap Nurhidayah.
Dinas Kesehatan telah menyalurkan 2.000 masker kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kobar. Masker itu selanjutnya dibagikan kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga dengan penyakit penyerta. Dapur umum yang dikelola Dinas Sosial dengan dukungan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) juga tetap beroperasi setiap hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi petugas di lapangan dan posko induk.
Antisipasi Krisis Air dan Usulan Helikopter Water Bombing
Posko BPBD memperluas fokus penanganan tidak hanya pemadaman api, tetapi juga mengantisipasi dampak ikutan musim kemarau seperti krisis air bersih di sejumlah wilayah. Pemkab Kobar telah mengusulkan bantuan helikopter water bombing kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah untuk disiagakan di Bandara Iskandar Pangkalan Bun. Langkah ini diambil agar pemadaman dari udara bisa dipercepat di titik-titik yang sulit dijangkau jalur darat.
“Pemkab juga terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna mengatasi kendala akses lokasi dan keterbatasan sumber air di beberapa titik kebakaran,” jelas Nurhidayah.
Risiko Kesehatan Petugas Dipantau, Rotasi dan APD Disiapkan
Pemkab Kobar memperkuat dukungan tim medis di posko dan titik penanganan aktif untuk memantau kondisi kesehatan personel. Rotasi serta pembatasan waktu bertugas diterapkan untuk mengurangi risiko kelelahan dan gangguan pernapasan akibat paparan asap berkepanjangan. Alat pelindung diri seperti masker dan oksigen portabel dipastikan tersedia bagi seluruh petugas dan relawan yang bertugas langsung di titik api.
Masyarakat kembali diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar. Jika menemukan titik api, warga diminta segera melapor, dan disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah serta menggunakan masker.
Duka untuk Relawan Ahmadin, Pengingat Pengorbanan di Garis Depan
Bupati Nurhidayah menyampaikan duka mendalam atas gugurnya relawan pemadam kebakaran Ahmadin alias Itam Madin. Ahmadin meninggal pada 30 Agustus 2026 setelah mengalami sesak napas akibat terus berjuang menangani karhutla di lapangan. “Dedikasi dan pengabdian almarhum menjadi pengingat besarnya pengorbanan para petugas dan relawan yang berada di garis depan penanganan bencana ini,” demikian Nurhidayah.