Pencarian

Baterai Solid-State EV: China Target 2030, Indonesia Belum Punya Peta Jalan

Kamis, 08 Oktober 2026 • 10:24:02 WIB
Baterai Solid-State EV: China Target 2030, Indonesia Belum Punya Peta Jalan
Pemerintah China menerbitkan rencana industri baterai 2026-2030 dengan target penerapan awal baterai all-solid-state pada 2030.

NARAWARTA.COM — Tujuh lembaga pemerintah China resmi menerbitkan rencana industri baterai 2026-2030 dengan target penerapan skala besar tahap awal baterai all-solid-state pada 2030. Dokumen bertanggal 14 September itu diumumkan 28 September, hanya beberapa bulan setelah Ketua CATL Robin Zeng menilai baterai solid-state baru di angka 4 dari 9. Indonesia yang punya nikel dan pabrik baterai belum mengumumkan tanggal serupa.

Robin Zeng memberi rapor itu pada Juni lalu. Ia menilai baterai solid-state di angka 4 dari 9, di mana angka 9 berarti siap diproduksi untuk mobil. Bos CATL, pembuat baterai mobil listrik terbesar di dunia, juga menyebut peluang baterai ini terpasang di sejuta mobil sebelum 2030 sangat kecil.

Penilaian itu bukan sembarangan. CATL baru akan memproduksi solid-state secara terbatas pada 2027. BYD menargetkan skala kecil di tahun yang sama. Artinya, industri sendiri masih ragu soal kesiapan pabrik.

Solid-State Bukan Sekadar Ganti Cairan Jadi Padat

Baterai mobil listrik hari ini menyimpan cairan elektrolit di dalamnya. Cairan itu menjadi jalan bagi ion yang bolak-balik saat baterai dicas dan dipakai, dan sifatnya mudah terbakar. Solid-state menggantinya dengan bahan padat.

Perbedaannya bukan cuma soal keamanan. Kepadatan energinya juga naik. ProLogium, pabrikan Taiwan, sudah membuat sel dengan kepadatan 381 Wh/kg. Tiap kilogram baterai menyimpan energi sekitar 30 persen lebih banyak dibanding sel di kebanyakan mobil listrik sekarang.

Angka itu menjelaskan mengapa banyak pihak menunggu. Dengan bobot baterai yang sama, jarak tempuh bisa naik signifikan. Atau sebaliknya, bobot bisa dipangkas tanpa mengorbankan jangkauan.

Masalahnya Ada di Lini Produksi, Bukan di Laboratorium

Sel yang berhasil di lab tidak otomatis bisa diproduksi massal. Ada persoalan yield, biaya per sel, dan stabilitas produksi jangka panjang. Di sinilah CATL dan BYD masih menahan diri.

Target 2027 untuk produksi terbatas itu pun bukan produksi massal. Keduanya menyebut skala kecil, yang biasanya berarti pasokan untuk model tertentu dengan volume terbatas. Bukan untuk seluruh lini kendaraan.

Pemerintah China mengambil jalan berbeda. Tujuh lembaga menerbitkan rencana industri baterai 2026-2030 dengan target penerapan skala besar tahap awal pada 2030. Dokumen bertanggal 14 September, diumumkan 28 September.

Indonesia Punya Bahan Baku, Belum Punya Jadwal

Indonesia berada di posisi yang secara teori menguntungkan. Negara ini punya cadangan nikel besar, yang menjadi salah satu komponen utama katoda baterai. Pabrik baterai juga sudah dibangun di dalam negeri.

Yang belum ada adalah target resmi kapan baterai solid-state masuk jalur produksi. China sudah memasang angka 2030 di dokumen pemerintah. Indonesia belum menerbitkan dokumen setara.

Selisih ini penting. Baterai solid-state mengubah rantai pasok. Kalau produksi bergeser ke sel padat, komposisi bahan yang dibutuhkan ikut berubah. Negara yang hanya menyiapkan nikel, tanpa menyiapkan teknologi sel, berisiko tetap jadi pemasok bahan mentah.

Yang Perlu Diperhatikan

  • Target 2030 China masih tahap awal skala besar, bukan produksi massal penuh
  • CATL dan BYD baru mulai produksi terbatas 2027, jadi harga baterai solid-state kemungkinan mahal di awal
  • Kepadatan 381 Wh/kg dari ProLogium baru level sel, belum teruji dalam paket baterai utuh
  • Indonesia belum mengumumkan target produksi solid-state, meski punya nikel dan pabrik

Untuk konsumen Indonesia, baterai solid-state belum akan terasa dalam dua sampai tiga tahun ke depan. Mobil listrik yang dijual sekarang masih pakai elektrolit cair, dan itu tidak berubah dalam waktu dekat.

Sumber: otomotif.sindonews.com

Follow narawarta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks