Bursa Asia Variatif, Yield Treasury 10 Tahun Tembus 5,3% dan Brent Turun 1,9%

Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Selasa (6/10/2026).
Penulis: Galih
Selasa, 06 Oktober 2026 | 08:42:31 WIB

NARAWARTA.COM — Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Selasa (6/10/2026), dengan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat kembali menyentuh level tertinggi sejak 2002. Yield Treasury tenor 10 tahun sempat menembus 5,3%, sementara tenor 30 tahun melampaui 5,7% atau level tertinggi dalam 24 tahun. Investor juga mencermati penurunan harga minyak mentah dan menantikan risalah rapat The Fed yang dirilis Rabu.

Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,22%, sedangkan Kospi Korea Selatan turun tipis. S&P/ASX 200 Australia menguat 0,32%. Pergerakan yang tidak seragam itu mencerminkan investor masih menimbang arah kebijakan moneter AS sebelum mengambil posisi lebih besar.

Tekanan dari Pasar Obligasi AS

Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun sempat menembus 5,3%, level yang terakhir terlihat pada 2002. Imbal hasil tenor 30 tahun juga sempat melampaui 5,7%, tertinggi dalam 24 tahun. Lonjakan yield obligasi biasanya menekan valuasi saham karena biaya modal naik dan imbal hasil aset bebas risiko jadi lebih menarik.

Chief Investment Officer Morgan Stanley Wealth Management Lisa Shalett mengatakan pasar obligasi telah bergerak volatil dalam enam pekan terakhir.

"Volatilitas tersebut dipengaruhi oleh potensi kerangka kebijakan baru Federal Reserve, pertumbuhan ekonomi, serta tingginya harga minyak di tengah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah," ujar Shalett.

Meski volatilitas intraday meningkat, Shalett menilai pergerakan enam pekan terakhir belum mencapai level ekstrem yang memicu bear market saham pada 2022. Artinya, tekanan di pasar obligasi belum berada pada tingkat yang sama seperti periode gejolak besar sebelumnya.

Harga Minyak Turun, Brent ke US$100,32

Penurunan harga minyak mentah pada perdagangan semalam turut membayangi pergerakan pasar Asia. Kontrak berjangka Brent turun 1,9% menjadi US$100,32 per barel. West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 1,8% menjadi US$89,43 per barel.

Koreksi minyak bisa jadi sinyal ambivalen bagi pasar. Di satu sisi meredakan kekhawatiran inflasi energi, tapi di sisi lain mencerminkan kekhawatiran permintaan global yang melemah.

Yang Ditunggu Investor

Investor kini menantikan risalah rapat The Fed pada September yang akan dirilis Rabu. Risalah itu diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai pertimbangan para pembuat kebijakan dalam menaikkan suku bunga.

Bagi investor Indonesia, kombinasi yield Treasury tinggi dan harga minyak yang masih di atas US$100 per barel perlu dicermati. Yield AS yang tinggi berpotensi menarik modal keluar dari pasar negara berkembang, sementara minyak mahal menekan neraca perdagangan dan ruang fiskal.

Reporter: Galih