NARAWARTA.COM — Usulan itu disampaikan Sekretaris Utama BNN Tantan Sulistyana dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026). Pagu anggaran 2027 yang diterima BNN hanya Rp 1,44 triliun, turun Rp 69,55 miliar atau 4,59% dibanding pagu awal 2026.
"BNN memperoleh anggaran sebesar Rp 1,44 triliun dengan alokasi per jenis belanja sebesar Rp 1,29 triliun untuk belanja operasional dan Rp 155,93 miliar untuk belanja non-operasional," kata Tantan dalam paparannya.
Layanan Dasar Terancam Nihil
Konsekuensi dari pagu tersebut, menurut Tantan, alokasi untuk belanja layanan publik seperti rehabilitasi, uji narkotika, dan layanan asesmen terpadu tidak dapat terpenuhi. Pos anggaran untuk prioritas nasional dan prioritas lembaga juga tercatat nol.
"Sehingga BNN tidak dapat mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden dan program kerja prioritas nasional dalam upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba," ujarnya.
Tambahan yang diajukan terdiri dari pinjaman luar negeri Rp 3,54 triliun dan Rupiah Murni (RM) Rp 1,51 triliun. Dari jumlah itu, alokasi terbesar untuk bidang pemberantasan mencapai Rp 579,27 miliar. Bidang rehabilitasi diusulkan Rp 229,43 miliar untuk layanan rawat inap, rawat jalan, pascarehabilitasi, rehabilitasi keliling, hingga tele-rehabilitasi.
Selain itu, Rp 105,01 miliar diproyeksikan untuk bidang laboratorium, termasuk pengadaan sarana analisis drug sniffer dog. Bidang data dan informasi mendapat jatah Rp 74,71 miliar untuk Survei Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba yang digelar dua tahunan.
Empat Operasi Besar Jadi Alasan Kebutuhan Dana
Kebutuhan dana tambahan itu dipaparkan beriringan dengan kinerja pengungkapan kasus dalam dua bulan terakhir. Pada Juli 2026, BNN bersama instansi terkait mengamankan cannabis buds seberat 3,37 ton di Gresik. Penyitaan itu diperkirakan menyelamatkan 10,1 juta jiwa dengan nilai ekonomis nyaris Rp 4,6 triliun.
Operasi gabungan berlanjut awal Agustus di perairan Kepulauan Riau dengan menangkap 1,3 ton ketamin. Pada 17 Agustus 2026, penyelundupan sabu cair 2,6 ton kembali digagalkan di lokasi yang sama. Tantan menyebut kasus tersebut menyelamatkan 14,15 juta jiwa dengan potensi nilai ekonomi Rp 8,49 triliun.
Puncaknya, pada 24 Agustus 2026, operasi gabungan dengan Bareskrim Polri, Bea Cukai, dan Polda Kepri mengintersep kapal kargo Fuq Fuq Chang Sing dan kapal tanker MV Asli di perairan Natuna Utara. Dari penggeledahan ditemukan 800 kilogram ketamin hidroklorida yang disembunyikan di buritan kapal.
"Melalui pengungkapan empat ini, kita kembali berhasil menyelamatkan 4 juta jiwa anak bangsa dari bahaya adiksi," kata Tantan.
Setiap Rupiah Menghasilkan Perlindungan Berlipat
Total dari empat pengungkapan tersebut, BNN menyatakan berhasil menyelamatkan 34,74 juta jiwa dari ancaman narkoba. Jika dikonversikan dengan kebutuhan biaya rehabilitasi, negara berpotensi menghemat hingga Rp 694,8 triliun.
"Fakta ini menegaskan bahwa setiap rupiah yang dianggarkan kepada BNN RI telah menghasilkan perlindungan negara yang bernilai ratusan kali lipat lebih besar," ungkapnya.
Tantan menambahkan, tantangan peredaran gelap narkotika kian kompleks dan dinamis. Perkembangan modus penyelundupan melalui jalur laut, penggunaan kapal besar, hingga penyembunyian barang bukti di bagian kapal yang sulit dijangkau menuntut kapasitas operasional yang lebih besar.