Pencarian

Cakupan Air Bersih Kota Malang Tembus 82 Persen, Tugu Tirta Andalkan AI TANIA hingga 400 Titik SCADA

Rabu, 02 September 2026 • 19:11:02 WIB
Cakupan Air Bersih Kota Malang Tembus 82 Persen, Tugu Tirta Andalkan AI TANIA hingga 400 Titik SCADA
Cakupan air bersih Kota Malang mencapai 82 persen dengan dukungan teknologi AI TANIA dan 400 titik SCADA.

MALANG — Tugu Tirta tak hanya mengandalkan perbaikan infrastruktur fisik untuk memperluas jangkauan air bersih. Perusahaan daerah ini memakai teknologi pemantauan dan kecerdasan buatan untuk mempercepat respons terhadap keluhan ribuan pelanggannya.

Digitalisasi diarahkan agar layanan publik berjalan lebih terbuka dan tidak bertele-tele. Priyo menegaskan inovasi yang digulirkan harus berujung pada kepastian bagi warga, bukan sekadar gimik.

"Inovasi harus menghasilkan pelayanan lebih cepat dan memberikan kepastian kepada pelanggan," tegas Priyo dalam Talkshow Idjen Talk Radio City Guide FM, Rabu (2/9/2026).

TANIA: Asisten Digital yang Bisa Dipakai 24 Jam

Salah satu andalan anyar adalah AI TANIA atau Tugu Tirta Asisten Informasi dan Aduan. Sepanjang Agustus 2026, layanan ini sudah menangani hampir 2.350 percakapan.

Melalui TANIA, pelanggan bisa bertanya soal tagihan hingga melaporkan kebocoran pipa. Meski digerakkan algoritma, TANIA tidak sepenuhnya menggantikan operator manusia. Kabid Software, Database, dan SCADA Tugu Tirta, Depri Setiawan, menjelaskan percakapan yang butuh penjelasan spesifik bakal dialihkan ke petugas.

400 Titik SCADA untuk Mendeteksi Kebocoran Sejak Dini

Tak hanya mengandalkan laporan warga, Tugu Tirta memasang sistem SCADA di 400 titik. Titik pantau ini membentang dari sumber air baku, reservoir, hingga pipa-pipa di jalur kritis.

Sensor IoT dan data logger terus ditambah agar anomali debit bisa terbaca lebih awal. Dengan begitu, petugas bisa turun ke lapangan sebelum keluhan kebocoran atau air mati menyebar luas.

Standar Aduan 1×24 Jam dan Program Sapa Pelanggan

Setiap personel penangan aduan kini dipatok target penyelesaian maksimal 1×24 jam. Penilaiannya memakai sistem customer centric yang merekam sejak laporan masuk, proses eksekusi lapangan, sampai status selesai.

Tugu Tirta juga menggelar program "Sapa Pelanggan" dengan turun langsung menjaring kritik. Hal ini jadi jalan untuk menemukan persoalan yang tidak tertangkap sistem digital.

Kepala Bidang Software, Database, dan SCADA menambahkan penggunaan IoT dan data logger memang difokuskan untuk membaca penurunan tekanan air lebih dini. Selama ini pendeteksian baru terjadi setelah warga ramai mengadu.

Akademisi Ingatkan Layanan Hybrid bagi Warga Gaptek

Di luar urusan teknis, Tugu Tirta juga mengusulkan Raperda Pembatasan Penggunaan Air Tanah yang menyasar sektor komersial seperti hotel dan restoran. Rumah tangga tidak masuk dalam aturan ini.

Menanggapi langkah tersebut, akademisi FIA Universitas Brawijaya Dr. Ike Wanusmawatie mengingatkan agar digitalisasi tak melupakan warga yang berada di jurang digital. Layanan hybrid tetap diperlukan bagi kelompok yang tidak terbiasa memakai aplikasi atau chatbot.

Ike juga menekankan pentingnya pelembagaan sistem supaya inovasi yang berjalan tidak bergantung pada figur pimpinan semata. Jika terjadi pergantian direksi, layanan yang sudah dibangun seharusnya tetap berjalan dengan standar yang sama.

Sumber: malang-post.com

Follow narawarta.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks