Indonesia Pernah Jadi Macan Asia, Kini Kalah Cepat dari Taiwan dan Vietnam

Ilustrasi perekonomian Indonesia yang pernah dijuluki Macan Asia pada era 1980-an hingga 1990-an.
Penulis: Galih
Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:05:01 WIB

NARAWARTA.COM — Indonesia pernah dijuluki Macan Asia pada era 1980-an hingga 1990-an berkat pertumbuhan ekonomi tinggi yang ditopang ekspansi industri. Hampir tiga dekade berselang, sejumlah ekonomi kawasan Asia justru diproyeksikan tumbuh jauh lebih cepat, mulai dari Taiwan yang diuntungkan boom AI hingga Vietnam yang memperkuat industri manufaktur. Pertanyaan besarnya, apa yang membuat mereka melaju lebih kencang dan apa yang menahan laju ekonomi Indonesia?

CNBC Indonesia membahas pergeseran peta pertumbuhan ekonomi Asia dalam program Squawk Box. Indonesia pernah menjadi salah satu dari empat Macan Asia bersama Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura pada periode 1980-an hingga 1990-an. Saat itu, pertumbuhan ekonomi nasional ditopang ekspansi industri dan pembangunan besar-besaran.

Namun, hampir tiga dekade berlalu, posisi Indonesia dalam peta pertumbuhan Asia berubah. Sejumlah ekonomi di kawasan ini diproyeksikan tumbuh jauh lebih cepat, meninggalkan laju pertumbuhan Indonesia yang dianggap stagnan di kisaran 5% per tahun.

Taiwan dan Vietnam Melaju Lebih Cepat

Taiwan menjadi contoh paling mencolok. Ekonomi mereka diuntungkan oleh boom kecerdasan buatan (AI) yang mendorong permintaan global terhadap semikonduktor dan komponen teknologi. Posisi Taiwan sebagai pemasok utama chip dunia membuat pertumbuhan ekspor mereka melesat.

Di sisi lain, Vietnam terus memperkuat industri manufaktur sebagai magnet investasi asing. Negara itu berhasil menarik perusahaan-perusahaan global yang mencari basis produksi alternatif di luar China, mulai dari elektronik hingga tekstil.

Kedua negara itu menunjukkan pola pertumbuhan yang berbeda dari Indonesia. Mereka berhasil menggeser struktur ekonomi ke sektor bernilai tambah tinggi dan menciptakan ekosistem industri yang terintegrasi dengan rantai pasok global.

Apa yang Menahan Laju Ekonomi Indonesia

Indonesia menghadapi sejumlah tantangan struktural yang membuat pertumbuhan ekonominya tidak bisa melesat. Ketergantungan pada komoditas mentah masih menjadi ciri utama struktur ekspor nasional. Hilirisasi memang mulai dijalankan, tetapi dampaknya terhadap pertumbuhan belum signifikan.

Selain itu, produktivitas tenaga kerja dan kualitas sumber daya manusia menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Iklim investasi juga dinilai belum sepenuhnya ramah bagi industri padat teknologi yang bisa mendorong pertumbuhan lebih tinggi.

Perbandingan dengan Taiwan dan Vietnam memperlihatkan bahwa kecepatan pertumbuhan tidak hanya soal ukuran ekonomi. Negara yang lebih kecil bisa tumbuh lebih cepat jika berhasil menemukan ceruk industri yang tepat dan terhubung dengan permintaan global.

Pertanyaan Besar bagi Indonesia

Diskusi dalam program Squawk Box CNBC Indonesia menyoroti pertanyaan mendasar: apa yang membuat Taiwan dan Vietnam bisa tumbuh lebih cepat, dan apa yang menahan laju ekonomi Indonesia?

Jawabannya tidak tunggal. Taiwan memanfaatkan momentum teknologi global, sementara Vietnam mengandalkan biaya produksi kompetitif dan kebijakan yang mendukung investasi asing. Indonesia memiliki pasar domestik besar, tetapi belum sepenuhnya mengoptimalkan potensi itu untuk mendorong industri bernilai tambah tinggi.

Tanpa pergeseran struktural yang lebih cepat, posisi Indonesia dalam peta pertumbuhan Asia berisiko terus tertinggal dari negara-negara yang lebih gesit beradaptasi dengan perubahan lanskap ekonomi global.

Reporter: Galih