Berat Badan Ibu Saat Hamil dan Kesuburan Anak Laki-laki: Apa Kata Studi Denmark
NARAWARTA.COM — Studi Denmark terhadap 9.232 anak menemukan anak laki-laki dari ibu dengan berat badan berlebih punya odds infertilitas 1,4 kali lebih tinggi saat dewasa. Meski begitu, peneliti menegaskan temuan ini belum membuktikan sebab-akibat langsung. Berikut penjelasan lengkapnya untuk ibu.
Penelitian dari Denmark mengungkap hubungan antara berat badan ibu sebelum hamil dan risiko infertilitas pada anak laki-laki ketika dewasa. Temuan ini menambah bukti bahwa kondisi lingkungan sejak janin masih di dalam kandungan bisa berdampak jangka panjang.
Namun, penting dipahami bahwa studi ini tidak membuktikan obesitas ibu secara langsung menyebabkan infertilitas pada anak laki-laki. Berikut rangkuman temuan dan penjelasannya.
Anak Laki-laki dari Ibu Overweight Berisiko Infertilitas Lebih Tinggi
Studi yang diterbitkan dalam Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica melibatkan 9.232 anak laki-laki dan perempuan. Mereka lahir dari ibu yang mengikuti penelitian Danish Healthy Habits for Two pada 1984–1987.
Para peneliti mengikuti peserta hingga dewasa dan menggunakan data dari Danish In-Vitro-Fertilization Register serta Danish National Patient Register. Dari situ, sebanyak 871 orang atau sekitar 9,4 persen peserta diketahui mengalami infertilitas.
Saat dianalisis berdasarkan jenis kelamin, hubungan hanya muncul pada anak laki-laki. Anak laki-laki dari ibu overweight memiliki odds infertilitas 1,4 kali lebih tinggi dibandingkan anak dari ibu dengan berat badan normal, dengan adjusted odds ratio (aOR) 1,4 dan 95 persen confidence interval 1,0–1,9.
Pada anak perempuan, hubungan serupa tidak ditemukan. aOR tercatat 0,9 dengan 95 persen confidence interval 0,7–1,2.
Fokus pada Berat Badan Ibu Sebelum Hamil
Yang perlu digarisbawahi, penelitian ini melihat BMI ibu sebelum kehamilan, bukan kenaikan berat badan selama hamil. Overweight dalam studi ini didefinisikan sebagai BMI di atas 25 kg/m².
Peserta berusia sekitar 31–34 tahun saat follow-up pada 2018. Di usia itu, peneliti bisa melihat kondisi reproduksi mereka ketika sudah dewasa.
Mengapa Berat Badan Ibu Bisa Berhubungan dengan Kesuburan Anak?
Peneliti belum bisa memastikan mekanisme biologis di balik hubungan tersebut. Salah satu hipotesisnya adalah fetal programming, yaitu kemungkinan kondisi lingkungan selama perkembangan janin memengaruhi fungsi organ dan kesehatan seseorang di masa depan.
Penelitian lain yang melibatkan 1.058 laki-laki muda Denmark menemukan BMI ibu sebelum hamil berhubungan dengan perubahan profil hormon reproduksi anak laki-laki saat dewasa. Anak dari ibu dengan overweight atau obesitas memiliki kadar estradiol dan free androgen index lebih tinggi, serta kadar sex hormone-binding globulin (SHBG) lebih rendah.
Meski begitu, penelitian tersebut tidak menemukan hubungan konsisten antara BMI ibu dengan kualitas semen atau volume testis. Artinya, perubahan profil hormon itu belum bisa langsung diartikan sebagai tanda infertilitas.
Obesitas Ibu Bukan Satu-satunya Faktor Kesuburan Anak
Infertilitas dipengaruhi banyak faktor. Genetik, kondisi kesehatan, berat badan anak saat dewasa, gaya hidup, lingkungan, hingga berbagai kondisi medis ikut berperan terhadap kesuburan seseorang.
Dalam studi Denmark tersebut, peneliti sendiri menyebut bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami hubungan antara berat badan ibu dan kesehatan reproduksi anak laki-laki.
Penelitian lain terhadap lebih dari 1.000 laki-laki juga menunjukkan sebagian hubungan antara BMI ibu dan perubahan hormon reproduksi anak berkaitan dengan massa lemak dan BMI anak ketika dewasa. Dengan kata lain, kondisi kesehatan seseorang setelah lahir tetap punya peran besar.
Jadi, Apakah Ibu Obesitas Pasti Membuat Anak Laki-laki Tidak Subur?
Tidak. Temuan ini bersifat observasional, artinya hanya menunjukkan adanya hubungan, bukan sebab-akibat. Ibu yang mengalami overweight atau obesitas sebelum hamil tidak perlu langsung khawatir berlebihan.
Yang lebih penting adalah menjaga kesehatan secara menyeluruh sebelum dan selama kehamilan. Konsultasikan dengan dokter atau bidan untuk mendapatkan panduan yang sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing.
Menjaga berat badan ideal, pola makan bergizi, dan aktivitas fisik tetap jadi langkah bijak untuk kesehatan ibu dan anak dalam jangka panjang. Jika ada kekhawatiran soal kesuburan anak di kemudian hari, pemeriksaan medis adalah cara paling tepat untuk memastikannya.