Studi Ungkap Gen Kura-kura Jonathan, Rahasia Umur 194 Tahun

Kura-kura raksasa Aldabra bernama Jonathan di Pulau St. Helena menjadi subjek studi genetika yang dipublikasikan di jurnal Science Advances.
Penulis: Wahyu
Minggu, 11 Oktober 2026 | 11:04:31 WIB

NARAWARTA.COM — Kura-kura raksasa Aldabra bernama Jonathan yang diperkirakan berusia 194 tahun menyimpan 287 varian gen unik yang memperlambat kerusakan DNA dan peradangan. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Science Advances oleh tim peneliti dari organisasi nirlaba Kallel, Amerika Serikat, dan menjadi penelitian pertama yang memetakan epigenom kura-kura raksasa.

Jonathan, kura-kura raksasa Aldabra (Aldabrachelys gigantea) yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Pulau St. Helena, menjadi subjek studi genetika terbaru yang diterbitkan di jurnal Science Advances. Penelitian ini memetakan epigenom Jonathan untuk memahami mengapa ia bisa bertahan hampir dua abad.

Peneliti mengidentifikasi 287 varian gen unik pada Jonathan. Varian tersebut mengendalikan sejumlah proses vital: perbaikan kerusakan DNA, penekanan peradangan, pengaturan insulin, dan penghambatan perkembangan kanker.

Mengapa Epigenom Jonathan Tetap Stabil

Epigenom adalah mekanisme yang berfungsi seperti sakelar untuk mengaktifkan atau menonaktifkan gen. Pada makhluk hidup umumnya, epigenom berubah seiring bertambahnya usia dan berkontribusi pada proses penuaan.

Tim peneliti membandingkan epigenom Jonathan dengan kura-kura raksasa dari spesies serupa yang berusia lebih muda. Hasilnya, sakelar yang mengendalikan gen perbaikan DNA dan metabolisme Jonathan sangat mirip dengan kerabatnya yang lebih muda.

"Kami menemukan bahwa pengatur gen yang terlibat dalam produksi energi dan perbaikan DNA tetap sangat stabil pada Jonathan selama hampir dua abad," kata Justin Gerlach, salah satu peneliti dalam studi tersebut, dikutip dari laman Universitas Cambridge.

Siapa Jonathan dan Seberapa Tua Usianya

Jonathan diperkirakan menetas pada 1832, sehingga hidup di era yang sama dengan Charles Darwin dan Ratu Victoria. Ia disebut sebagai kura-kura raksasa tertua yang masih hidup sekaligus hewan darat tertua di dunia saat ini.

Kura-kura ini tinggal di kawasan Plantation House, kediaman gubernur St. Helena, wilayah seberang laut Inggris di Samudra Atlantik Selatan. Jonathan tiba di pulau tersebut 144 tahun lalu dari Seychelles dalam kondisi sudah dewasa, lalu diberikan sebagai hadiah kepada gubernur.

Para peneliti menilai kura-kura raksasa yang hidup di Kepulauan Galapagos dan Seychelles merupakan kelompok penyintas dari jenis hewan yang dahulu mendominasi ekosistem di banyak pulau dunia.

Dari Evolusi ke Pengobatan Manusia

Stephen Clark, penulis senior penelitian dan pendiri Kallel, menyatakan bahwa genom Jonathan memberi gambaran tentang mekanisme sel bertahan menghadapi kerusakan. Kallel merupakan organisasi nirlaba di Amerika Serikat yang berfokus pada riset umur panjang.

"Tujuan kami adalah menerjemahkan temuan evolusi ini menjadi pengobatan yang praktis dan terjangkau bagi masyarakat luas sesegera mungkin. Penuaan merupakan faktor risiko terbesar bagi hampir semua penyakit kronis yang kita hadapi," kata Clark.

Ia menambahkan, dukungan mitra filantropi memungkinkan perluasan akses masyarakat terhadap pengobatan untuk memperpanjang usia sehat. Penelitian ini disebut sebagai yang pertama menyelidiki epigenom kura-kura raksasa.

Gerlach menyebut kesempatan meneliti Jonathan sebagai pengalaman istimewa. "Bekerja dengan kura-kura raksasa yang benar-benar sudah sangat tua merupakan sebuah keistimewaan. Kita bisa merasakan bahwa kura-kura tersebut adalah rekan dalam penelitian, bukan sekadar objek yang diteliti," ujarnya.

Reporter: Wahyu