INALUM Luncurkan Sertifikasi Low Carbon Aluminium di Forum Global Fastmarkets 2026

INALUM meluncurkan Sertifikasi Low Carbon Aluminium pada Fastmarkets International Aluminium Conference 2026.
Penulis: Wahyu
Senin, 05 Oktober 2026 | 08:03:31 WIB

NARAWARTA.COM — PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM resmi meluncurkan Sertifikasi Low Carbon Aluminium kepada pelanggan, bersamaan dengan ajang Fastmarkets International Aluminium Conference 2026 yang berlangsung 15–17 September 2026. Langkah ini menegaskan posisi INALUM sebagai satu-satunya produsen aluminium primer Indonesia yang proses peleburannya ditopang energi listrik berbasis tenaga air. Sertifikasi ini membuka peluang akses pasar yang lebih luas bagi aluminium Indonesia di tengah meningkatnya permintaan global terhadap produk berjejak karbon rendah.

Fastmarkets mempertemukan lebih dari 500 pelaku industri dan pengambil keputusan dari berbagai mata rantai industri aluminium dunia. Agenda forum mencakup perkembangan pasar, dinamika harga dan pasokan, perdagangan global, hingga isu keberlanjutan dan pengembangan aluminium rendah karbon.

Mengapa Sertifikasi Ini Penting bagi INALUM

Peluncuran sertifikat menjadi bagian dari strategi INALUM meningkatkan daya saing aluminium Indonesia. Permintaan industri global terhadap produk dengan jejak karbon lebih rendah terus tumbuh, dan INALUM ingin menjawab kebutuhan itu.

Posisi INALUM berbeda dari produsen aluminium primer lain di Indonesia. Proses peleburan perusahaan ditopang energi listrik berbasis tenaga air, sehingga menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan produksi yang bergantung pada energi fosil.

Direktur Pengembangan Usaha dan Komersial INALUM, Arif Haendra, menyatakan pasar global semakin memberi perhatian pada produk aluminium berjejak karbon rendah. Ia menilai keunggulan energi terbarukan INALUM perlu diterjemahkan menjadi posisi tawar yang lebih kuat.

"Pasar global semakin memberikan perhatian terhadap produk aluminium dengan jejak karbon yang lebih rendah. INALUM memiliki keunggulan karena proses produksi aluminium kami ditopang oleh energi berbasis tenaga air (renewable energy). Keunggulan ini ingin kami terjemahkan menjadi posisi tawar yang lebih kuat, sehingga produk aluminium Indonesia semakin kompetitif dan memiliki akses yang lebih luas di pasar internasional," ujar Arif.

Jejaring Mitra Internasional yang Diperkuat

Momentum peluncuran sertifikasi turut diperkuat penguatan kerja sama INALUM dengan sejumlah mitra internasional. Mitra tersebut antara lain Mitsubishi RtM Jepang, Hartree, serta MIND ID Trading (MIT) Singapore-Concord Inggris.

Kolaborasi dengan mitra global menjadi bagian dari langkah INALUM memperluas jejaring internasional dan membuka peluang pengembangan pasar. Kerja sama ini juga menunjukkan semakin terbukanya ruang bagi produk aluminium Indonesia untuk masuk dan berkembang di pasar global yang makin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Membaca Perubahan Kebutuhan Pelanggan

Kepala Grup Komersial dan Manajemen Rantai Pasok INALUM, Jevi Amri, menambahkan bahwa sertifikasi ini menjadi bagian dari strategi perusahaan membaca perubahan kebutuhan pelanggan. Ia menekankan bahwa keunggulan rendah emisi harus mampu menciptakan peluang pasar baru.

"Bagi kami, Low Carbon Alumunium bukan hanya tentang proses produksi yang lebih rendah emisi, tetapi juga bagaimana keunggulan tersebut dapat menjawab kebutuhan pelanggan dan menciptakan peluang pasar baru. INALUM ingin memastikan bahwa kekuatan energi bersih yang kita miliki dapat memberikan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi aluminium Indonesia dalam rantai pasok global," tutur Jevi.

Peluncuran Low Carbon Aluminium bersamaan dengan Fastmarkets 2026 juga menjadi sarana INALUM memperkenalkan kapabilitas industri aluminium Indonesia kepada pelaku industri, trader, pelanggan, serta mitra strategis internasional.

Langkah INALUM menempatkan aluminium Indonesia dalam persaingan rantai pasok global yang semakin mengarah pada produk berkelanjutan. Dengan fondasi energi air dan penguatan jejaring mitra lintas negara, perusahaan mendorong posisi tawar yang lebih kuat sekaligus mengambil bagian dalam perkembangan industri aluminium dunia.

Reporter: Wahyu