Tiket Konser Mahal Sold Out, Guru UNAIR Sebut Fanatisme Bukan Daya Beli
NARAWARTA.COM — Guru Besar Perilaku Konsumen Universitas Airlangga, Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, menilai fenomena tiket konser mahal yang selalu sold out lebih mencerminkan fanatisme penggemar ketimbang tingginya daya beli masyarakat. Dalam keterangannya yang dikutip dari laman resmi UNAIR, ia menyebut sebagian penggemar bahkan rela berhemat hingga memanfaatkan pinjaman online demi membeli tiket. Gancar menegaskan kesimpulan soal kondisi ekonomi nasional tidak bisa diambil hanya dari cepatnya tiket konser terjual.
Tiket konser dengan harga jutaan rupiah kembali menjadi rebutan di Indonesia. Sejumlah tiket bahkan ludes dalam hitungan menit, meski harganya melampaui upah minimum di beberapa daerah. Fenomena ini lantas memunculkan anggapan bahwa daya beli masyarakat masih kuat dan ekonomi sedang baik-baik saja.
Fanatisme, Bukan Daya Beli Tinggi
Guru Besar Bidang Perilaku Konsumen Berkelanjutan Universitas Airlangga (UNAIR) Prof. Dr. Gancar Candra Premananto menolak pembacaan tersebut. Menurutnya, fenomena tiket konser mahal yang sold out lebih berkaitan dengan tingginya fanatisme dan loyalitas penggemar.
"Bukan masalah daya beli tinggi. Namun, lebih karena fanatisme tinggi dari para penggemar yang menjadikan mereka rela melakukan berbagai hal agar bisa membeli tiket. Seperti berhemat hingga memanfaatkan pinjaman online (pinjol)," kata Gancar dalam keterangannya dikutip dari laman resmi UNAIR, Rabu (23/9/2026).
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR itu menyebut sebagian penggemar menjadikan konser sebagai prioritas pengeluaran. Alasannya, kesempatan menyaksikan idola belum tentu datang setiap tahun.
"Bagi mereka, pertunjukan yang belum tentu terjadi setahun sekali tersebut layak menjadi prioritas untuk membahagiakan diri (self-reward)," ujarnya.
Konsumsi Tersier dan Orientasi Jangka Pendek
Gancar menilai anggapan ekonomi Indonesia sedang baik-baik saja karena tiket konser mahal terus habis terjual bisa menciptakan gambaran semu soal daya beli. Pasalnya, pengeluaran untuk tiket konser termasuk konsumsi kebutuhan tersier, bukan kebutuhan rutin masyarakat.
Konsumsi semacam ini, kata dia, berkaitan dengan short-term orientation atau orientasi jangka pendek. Di tengah ketidakpastian ekonomi jangka panjang, sebagian konsumen memilih menggunakan uangnya untuk memperoleh kebahagiaan dalam waktu dekat.
"Padahal, pemenuhan kebutuhan tersier yang dilakukan saat ini merupakan bentuk konsumsi dengan short-term orientation (orientasi jangka pendek). Mengingat perekonomian jangka panjang penuh dengan ketidakpastian, konsumen memilih untuk membahagiakan dirinya dalam jangka pendek," jelas Gancar.
Penonton Konser Tak Sampai 1 Persen Penduduk RI
Dari perspektif makroekonomi, Gancar menyebut fenomena tiket konser mahal yang laris tidak serta-merta menggambarkan kondisi perekonomian nasional. Pembeli tiket konser hanya mewakili sebagian kecil masyarakat.
Ia menyebut fenomena ini sebagai bubble effect. Konsumen yang terlihat sangat aktif berbelanja berada dalam kelompok tertentu dan tidak mencerminkan populasi secara keseluruhan. Pembeli tiket konser pun punya segmentasi khusus, termasuk penggemar dengan tingkat loyalitas sangat tinggi atau hardcore loyalist.
Gancar mencontohkan kapasitas stadion besar seperti Gelora Bung Karno (GBK) maupun Jakarta International Stadium (JIS) yang dapat menampung sekitar 70 ribu hingga 80 ribu penonton. Angka itu tetap sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang telah mencapai lebih dari 280 juta jiwa.
"Kapasitas stadion besar seperti GBK atau JIS mampu menampung 70 hingga 80 ribu penonton. Jumlah tersebut bahkan tidak sampai 1 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa. Porsinya sangat kecil dan sama sekali tidak merepresentasikan kondisi seluruh penduduk Indonesia," paparnya.
Indikator Ekonomi yang Lebih Luas
Menurut Gancar, daya beli masyarakat tidak dapat disimpulkan hanya dari seberapa cepat tiket konser terjual. Kondisi ekonomi perlu dilihat melalui indikator yang lebih luas, termasuk inflasi dan tingkat pengangguran.
Meski demikian, tingginya aktivitas hiburan bukan berarti tanpa dampak ekonomi positif. Konsumsi berorientasi jangka pendek dapat meningkatkan destination awareness dan menggerakkan ekonomi daerah secara sporadis.
Gancar tetap mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi keuangan jangka panjang, terutama di tengah tren hiburan berbiaya tinggi.
"Sosialisasi dan literasi berinvestasi untuk produk-produk primer dan sekunder jangka panjang tetap perlu diperhatikan dan disikapi secara serius oleh masyarakat," kata ia.
Fenomena tiket konser mahal yang ludes dalam hitungan menit memang jadi pemandangan rutin di industri hiburan Indonesia. Namun dari kacamata perilaku konsumen, lonjakan itu lebih tepat dibaca sebagai potret loyalitas segmen penggemar ketimbang potret daya beli nasional.