Pusat Data AI Boros Listrik Jadi Sorotan New York Climate Week 2026

Peserta membahas konsumsi listrik pusat data AI dalam New York Climate Week 2026.
Penulis: Galih
Rabu, 23 September 2026 | 14:41:31 WIB

NARAWARTA.COM — Pusat data dan kecerdasan buatan menjadi topik utama dalam New York Climate Week 2026 karena konsumsi listriknya yang sangat besar. Para pemimpin global mulai membahas dampak lingkungan teknologi ini, bersamaan dengan rilis laporan terbaru soal kondisi Bumi. Perdebatan soal AI sebagai solusi atau penyebab krisis iklim pun semakin tajam.

Pusat data dan kecerdasan buatan (AI) ramai dibahas dalam gelaran New York Climate Week 2026. Fasilitas ini dikenal sangat haus listrik dan air, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan pegiat lingkungan maupun pembuat kebijakan.

Pembicaraan tingkat tinggi dimulai pada Senin (21/9), bersamaan dengan rangkaian Sidang Umum PBB. Para pejabat pemerintah dan eksekutif bisnis berkumpul membahas percepatan perbaikan Bumi, dengan harapan besar pada energi terbarukan.

Laporan Terbaru: Tujuh dari Sembilan Batas Planet Terlampaui

Sebuah laporan yang dirilis pada Senin (21/9) oleh Planetary Boundaries Science Lab dari Potsdam Institute for Climate Impact Research di Jerman mengungkap temuan serius. Dunia telah melampaui tujuh dari sembilan batasan planet yang ditentukan secara ilmiah untuk Bumi yang sehat.

"Bumi sebagai pasien sedang tidak sehat," kata Johan Rockström, Direktur Potsdam Institute for Climate Impact Research.

"Kita tidak hanya membahayakan stabilitas, ketahanan, dan sistem pendukung kehidupan di Bumi, kita juga sangat dekat dengan ambang batas yang dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan dan tidak terkendali," tambahnya.

AI Dianggap Paradoks: Bisa Memperburuk atau Menyelesaikan Masalah Iklim

Kecerdasan buatan dengan pusat data yang boros energi dan air disebut sebagai paradoks. Teknologi ini berpotensi memperburuk krisis iklim, tetapi juga bisa menjadi alat untuk menyelesaikannya.

Helen Clarkson, CEO organisasi nirlaba Climate Group yang menyelenggarakan New York Climate Week, menyebut dampak lingkungan dari AI dan pusat data sebagai "topik yang sangat hangat". Peserta menyampaikan harapan sekaligus kekhawatiran tentang masa depan AI dan perannya dalam memerangi perubahan iklim.

"Kecerdasan buatan yang boros energi mendorong peningkatan polusi yang menyebabkan pemanasan global akibat batu bara, minyak, dan gas, sekaligus menaikkan biaya energi bagi rumah tangga dan bisnis," kata Kepala Bidang Iklim PBB, Simon Stiell.

"Para pemimpin AI kini berada di posisi yang sulit dalam hal izin operasi, dan semakin sulit pula meraih dukungan publik," imbuhnya.

Pandangan Industri: AI Dibutuhkan untuk Merancang Masa Depan

Eva Riesenhuber, kepala keberlanjutan di perusahaan otomasi Jerman Siemens, menilai AI sangat penting bagi umat manusia dan akan membantu mengatasi perubahan iklim.

"Kami berpacu untuk mengurangi dampak ini secepat mungkin karena kami bergantung pada kecerdasan (buatan), dan kami memang membutuhkan kecerdasan (buatan) untuk merancang masa depan yang dibutuhkan planet ini," ungkap Riesenhuber.

Evelyn Wang, wakil presiden bidang energi dan iklim di Massachusetts Institute of Technology (MIT), berpendapat bahwa pusat data yang menambah masalah iklim dan air bukanlah masalah permanen. Menurutnya, pusat data membutuhkan waktu sekitar lima tahun lagi untuk mencapai water netral, dan sekitar satu dekade untuk tidak lagi menambah emisi pemanasan global.

Isu Keamanan Nasional dan Rencana Protes

UK Secretary of State Edward Miliband menyatakan transisi ke energi yang lebih bersih dan terbarukan kini menjadi kewajiban untuk keamanan nasional.

"Krisis iklim harus menjadi isu bagi para menteri luar negeri, perdana menteri, serta menteri energi dan iklim. Begitu juga di kalangan keamanan dan pertahanan, bukan hanya di kalangan aktivis. Para jenderal (juga harus terlibat), bukan hanya para penggiat lingkungan," katanya.

Pembicaraan soal AI dan pusat data di New York Climate Week 2026 juga diwarnai rencana aksi protes terkait AI sepanjang rangkaian acara. Pola diskusi tahunan yang dinilai jarang berujung pada tindakan nyata disebut para ahli dan aktivis harus segera berubah, terutama dengan meningkatnya harga bahan bakar fosil akibat perang di Iran dan Ukraina serta bencana iklim yang mencapai tingkat kehancuran baru di Asia.

Reporter: Galih