Pelajaran dari Fortuner Tabrak Pikap Kopdes di Blitar: Salah Salip Berujung Ringsek
NARAWARTA.COM — Kecelakaan di Blitar antara Toyota Fortuner dan pikap Mahindra program Kopdes menunjukkan satu kesalahan klasik saat menyalip: panik dan banting setir ke kiri ketika ada kendaraan dari arah berlawanan. Tidak ada korban jiwa, tapi kedua kendaraan ringsek di bagian depan, dan insiden ini jadi pengingat bahwa mendahului butuh lima tahap yang tidak boleh dilompati.
Insiden lalu lintas di Jalan Raya Desa Soso, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, melibatkan dua kendaraan yang kontras: Toyota Fortuner dan pikap Mahindra yang diimpor dari India untuk program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Keduanya ringsek di bagian depan setelah benturan terjadi. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Kasat Lantas Polres Blitar, AKP Galih Yasir Mubaroq, menjelaskan kronologi awal kecelakaan. Pengemudi Fortuner berinisial Y (20) diduga kurang fokus saat hendak mendahului pikap Kopdes yang melaju searah di depannya.
Kronologi: Gagal Salip, Banting Setir ke Kiri
Saat pengemudi Fortuner hendak mendahului, dari arah berlawanan muncul sepeda motor. Situasi itu memaksa pengemudi Fortuner mengambil keputusan cepat.
"Pengemudi Fortuner ini langsung banting setir ke kiri, dan berbenturan dengan pikap Kopdes tersebut," terang Galih.
Benturan itu membuat kedua kendaraan mengalami kerusakan, terutama pada bagian depan. Pikap Mahindra yang membawa logo Koperasi Desa Merah Putih itu ringsek, begitu pula Fortuner yang menabraknya.
Lima Tahap Menyalip yang Sering Diabaikan
Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menilai mendahului bukan sekadar urusan menekan pedal gas lebih dalam. Ada perhitungan yang harus dipenuhi sebelum keputusan menyalip diambil.
"Mendahului bagian dari proses berkendara, tetapi nggak semudah teori karena setingkat lebih bahaya dan butuh pemahaman tentang cara berpikir, melihat potensi bahaya dan kemampuan diri dan kendaraannya," kata Sony kepada detikOto, Minggu (20/9/2026).
Menurut Sony, pengemudi harus menguasai emosi dan berpikir positif sebelum memutuskan menyalip. Prosesnya terdiri dari lima tahap yang saling berkaitan.
- Tahap 1: Lihat kepentingannya — apakah benar perlu menyalip atau tidak.
- Tahap 2: Tidak melanggar aturan lalu lintas, perhatikan marka dan rambu.
- Tahap 3: Pastikan ada ruang aman di depan kendaraan yang akan disusul, termasuk ruang untuk menghindar.
- Tahap 4: Pastikan blindspot atau titik buta kecil.
- Tahap 5: Kemampuan kecepatan 10-20 km/jam lebih tinggi dari kendaraan yang akan didahului.
Kalau salah satu tahap tidak terpenuhi, menurut Sony, seharusnya pengemudi tidak layak mendahului. Dalam kasus Fortuner di Blitar, ia menduga pengemudi tidak cermat dalam menjalankan proses tersebut.
Reaksi yang Benar saat Situasi Tidak Aman
Sony menegaskan, ketika kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan manuver salip, pengemudi harus segera mengurangi kecepatan dan kembali ke posisi semula. Menghindar ke kanan justru berisiko karena ruang itu belum tentu aman.
"Reaksi yang benar harusnya segera kurangi kecepatan dan balik masuk lagi ke posisi awal. Menghindar ke kanan tidak disarankan karena itu ruang yang belum tentu aman, khususnya di kondisi lalu lintas Indonesia," pungkas Sony.
Kecelakaan Fortuner versus pikap Kopdes ini menyisakan satu catatan penting: kendaraan besar dengan tenaga besar bukan jaminan bisa menyalip dengan aman kalau lima tahap tadi dilompati. Yang paling mahal dari insiden ini bukan biaya perbaikan bodi, tapi pelajaran bahwa banting setir panik ke kiri justru memperbesar risiko benturan.