Babinsa Sapeken Pantau Anak Stunting di Pagerungan Kecil

Babinsa Koramil 0827/19 Sapeken mengunjungi keluarga dengan anak stunting di Desa Pagerungan Kecil, Selasa (15/9/2026).
Penulis: Farah
Selasa, 15 September 2026 | 16:39:31 WIB

NARAWARTA.COM — Kesehatan anak sering kali menjadi tanggung jawab orang tua yang terabaikan akibat keterbatasan informasi atau akses layanan kesehatan. Di wilayah kepulauan seperti Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, jarak antar pulau bisa menjadi hambatan besar bagi ibu muda untuk rutin membawa balita ke posyandu.

Serka Pahlawan Bala, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 0827/19 Sapeken, mengambil langkah proaktif pada Selasa (15/9/2026). Ia mengunjungi keluarga yang memiliki anak stunting di Desa Pagerungan Kecil. Tujuannya bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan membangun kedekatan emosional agar orang tua merasa didukung, bukan dihakimi.

Pendekatan personal ini kerap lebih ampuh daripada imbauan umum. Ketika aparat desa dan TNI hadir langsung di ruang tamu, pesan tentang pentingnya gizi seimbang tersampaikan dengan lebih hangat dan mudah diterima oleh hati nurani para ibu.

Fokus pada Asupan Gizi dan Kebersihan Lingkungan

Dalam kunjungan tersebut, komunikasi dua arah menjadi kunci utama. Serka Pahlawan Bala tidak hanya mencatat data, tetapi juga memberikan motivasi konkret kepada orang tua mengenai tiga pilar kesehatan anak: asupan gizi, kebersihan lingkungan, dan pemeriksaan berkala.

Banyak kasus stunting di daerah pesisir bukan semata-mata karena kemiskinan ekstrem, melainkan kurangnya pemahaman tentang komposisi makanan bergizi yang terjangkau. Ikan segar dan hasil laut melimpah, namun cara pengolahannya kadang kurang memperhatikan variasi nutrisi tambahan seperti sayur mayur atau protein hewani lainnya.

"Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin memastikan keluarga yang membutuhkan perhatian dapat terus terpantau," ujar Serka Pahlawan Bala. Pernyataan ini menegaskan komitmen TNI AD sebagai bagian dari solusi percepatan penanganan stunting nasional.

Sinergi Keluarga dan Pemerintah Daerah

Penanganan stunting adalah maraton, bukan lari sprint. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi pemantauan pasca-kunjungan. Kehadiran Babinsa berfungsi sebagai jembatan antara warga binaan dengan puskesmas atau kader posyandu setempat.

Masyarakat di Pagerungan Kecil diharapkan tidak malu melaporkan kondisi anaknya jika mengalami gangguan pertumbuhan. Dukungan moril dari aparat keamanan di lapangan sering kali menjadi penenang bagi ibu-ibu yang cemas akan masa depan buah hatinya.

Sinergi antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui peran aktif TNI menciptakan ekosistem yang lebih peduli. Setiap anak berhak mendapatkan hak atas kesehatan dan tumbuh kembang optimal tanpa terhalang status sosial ekonomi orang tuanya.

Tanda Bahaya Tumbuh Kembang Anak

Ibu muda perlu waspada terhadap beberapa indikator fisik yang menunjukkan risiko stunting pada balita. Jika tinggi badan anak jauh di bawah garis normal kurva pertumbuhan WHO selama dua bulan berturut-turut, segera konsultasikan ke tenaga medis.

  • Anak terlihat lebih pendek dibanding teman sebaya seusianya.
  • Bobot badan sulit naik meskipun nafsu makan cukup baik.
  • Terlambat mencapai tonggak perkembangan motorik atau bicara.
  • Mudah sakit dan tampak lemas sepanjang hari.

Jangan menunda tindakan preventif. Deteksi dini memungkinkan intervensi gizi yang lebih efektif sebelum kerusakan jangka panjang terjadi. Manfaatkan setiap kunjungan petugas kesehatan atau aparat desa untuk bertanya seputar menu MPASI yang tepat sesuai usia anak.

Kehadiran Babinsa di tengah keluarga stunting di Sapeken mengingatkan kita bahwa menjaga generasi sehat adalah tugas bersama. Dengan kolaborasi yang erat antara orang tua dan pemangku kepentingan lokal, harapan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 dimulai dari dapur-dapur kecil di rumah tangga kita.

Reporter: Farah