NARAWARTA.COM — Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengonfirmasi pergeseran lokasi kapal berdasarkan pembaruan data pada hari kedua operasi pencarian dan pertolongan (SAR). Perubahan posisi ini mengikuti arus laut yang bergerak di area kecelakaan.
Syafii menjelaskan bahwa kondisi kapal yang tengkurap di dasar laut justru menjadi pertimbangan teknis penting bagi tim penyelamat. Ia merujuk pada masukan dari personel TNI Angkatan Laut mengenai stabilitas bangkai kapal selama proses evakuasi berlangsung.
"Sebenarnya kalau dalam kondisi penanganan kecelakaan seperti ini, dari teman-teman TNI Angkatan Laut, malah kalau perlu tenggelam di dasar akan lebih baik kalau misalkan kapal itu diam," kata Syafii. Risiko Teknis Penyelaman di Ruang Tertutup
Operasi masuk ke dalam badan kapal tidak dapat dilakukan secara paksa karena tingginya risiko keselamatan bagi personel. Kondisi kapal yang terbalik menciptakan ruang-ruang kosong atau sekat tertutup yang berpotensi berbahaya jika dibuka tanpa prosedur ketat.
Perubahan tekanan udara di dalam ruang tertutup tersebut bisa membahayakan penyelam. Oleh karena itu, setiap tindakan teknis harus menunggu terpenuhinya syarat keselamatan (safety first), termasuk penilaian kondisi cuaca dan lingkungan bawah laut yang memungkinkan personel bekerja dengan aman.
"Begitu juga pada saat ada ruang-ruang di kapal yang kosong ini, kalau kita sampai memaksakan untuk masuk, apabila kita membuka misalkan salah satu sekat dari ruang kosong ini, di situ ada perubahan tekanan yang luar biasa, tentunya ini akan sangat membahayakan," ujar Syafii. Strategi Penanganan Lanjutan dan Fokus Permukaan
Basarnas saat ini memaksimalkan pencarian korban di permukaan air sambil mengkaji metode penarikan kapal. Opsi mengubah posisi bangkai kapal dari tengkurap menjadi posisi yang lebih memudahkan akses internal masih dibahas secara mendalam bersama ahli.
Langkah ini melibatkan diskusi intensif dengan personel yang memiliki pengalaman khusus dalam penanganan kapal karam. Tujuannya adalah menentukan teknik yang paling minim risiko namun efektif untuk menemukan korban yang mungkin terjebak di dalam kapal.
"Tentu kita masih sangat berharap agar segera ditemukan korban-korban dalam kondisi selamat," tambah Syafii.
Peta sektor operasi SAR yang semula dibagi menjadi enam zona kemungkinan akan di