KH Miftachul Akhyar Kembali Jadi Rais Aam PBNU 2026-2031, Diputuskan Mufakat dalam Musyawarah Tertutup di Jombang

KH Miftachul Akhyar ditetapkan kembali sebagai Rais Aam PBNU periode 2026-2031 melalui musyawarah mufakat dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU di Jombang.
Penulis: Farah
Senin, 31 Agustus 2026 | 03:48:01 WIB

JOMBANG — Jabatan tertinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama kembali dipercayakan kepada ulama asal Surabaya. Musyawarah sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031.

Hasil keputusan tersebut dibacakan dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Ini merupakan periode kedua bagi KH Miftachul Akhyar setelah sebelumnya menjabat pada masa khidmah 2021-2026.

Musyawarah Mufakat, Bukan Pemungutan Suara

Ada keunikan dalam proses penetapan kali ini. Musyawarah AHWA justru dipimpin langsung oleh KH Miftachul Akhyar, yang saat itu masih berstatus Rais Aam petahana.

Ketua PBNU yang membacakan hasil musyawarah, KH Anwar Iskandar, menjelaskan mekanisme tersebut memiliki preseden pada Muktamar NU sebelumnya di Lampung. Saat itu rapat AHWA juga dipimpin KH Ma'ruf Amin sebagai Rais Aam atau mantan Rais Aam.

"Pemilihan ini sama dengan yang Muktamar di Lampung dulu. Bahwa rapat Ahlul Halli wal Aqdi dipimpin oleh Kiai Haji Ma'ruf Amin sebagai Rais Aam atau mantan Rais Aam. Maka kali ini tadi juga dipimpin oleh Kiai Miftachul Akhyar sebagai mantan atau Rais Aam yang dahulu," ujarnya.

Penentuan Rais Aam tidak melalui pemungutan suara, melainkan mekanisme musyawarah mufakat. "Oleh karena itu apa yang diputuskan di dalam Ahlul Halli wal Aqdi tadi di dalam menentukan Rais Aam adalah berdasar musyawarah mufakat," kata KH Anwar Iskandar.

Sembilan Kiai Penentu Rais Aam

Sembilan anggota AHWA yang mengikuti musyawarah ini sebelumnya ditetapkan melalui tabulasi suara dalam Sidang Pleno IV Muktamar ke-35 NU. Mereka mendapat mandat untuk menentukan kepemimpinan tertinggi organisasi.

Dalam tabulasi tersebut, KH Nurul Huda Djazuli menjadi peraih suara tertinggi dengan 485 suara. KH Miftachul Akhyar sendiri kembali masuk dalam sembilan anggota AHWA setelah pada Muktamar ke-34 NU juga menjadi anggota dan kemudian terpilih sebagai Rais Aam.

Perjalanan Panjang Kiai Miftach di NU

Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar membuat posisi Rais Aam PBNU dua periode berturut-turut berada di tangan ulama kelahiran Surabaya tahun 1953 itu. Ia merupakan putra KH Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, dan anak kesembilan dari 13 bersaudara.

Karier organisasinya panjang. Ia pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Surabaya pada 2000-2005, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur pada 2007-2013 dan 2013-2018, serta Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang kemudian menjadi Pj Rais Aam PBNU 2018-2020.

Pendidikan keagamaannya ditempuh di sejumlah pesantren, dengan genealogi keilmuan bersandar pada ulama Pondok Pesantren Tambakberas, Sidogiri, Lasem, serta Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki di Malang. Ia kemudian mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan, Surabaya.

Mandat Merawat dan Menyatukan NU

Keputusan AHWA tidak berhenti pada penetapan Rais Aam. Sembilan kiai tersebut juga memberikan amanat kepada KH Miftachul Akhyar untuk mengajak seluruh potensi di lingkungan NU kembali bersama-sama merawat dan mengurus organisasi.

"Ada catatan yang merupakan pesan daripada para Ahlul Halli wal Aqdi semuanya, bahwa kepada Rais Aam terpilih diamanatkan untuk mengajak potensi-potensi yang ada di dalam Nahdlatul Ulama dalam bentuk apa pun untuk ke depan bersama-sama merawat dan mengurus Nahdlatul Ulama secara secara bersama-sama," jelas KH Anwar Iskandar.

Amanat ini disampaikan agar berbagai pihak yang sebelumnya memiliki perbedaan pandangan dalam dinamika organisasi bisa kembali membangun NU bersama, terlepas dari latar belakang dan dinamika yang terjadi sebelumnya.

Reporter: Farah