Prabowo Diminta Copot Menteri Warisan Jokowi, Dianggap Hambat Efektivitas Kabinet hingga 2029
NARAWARTA.COM — Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid, menilai kehadiran para menteri yang berafiliasi dengan Jokowi menciptakan dilema politik bagi Prabowo. Ia menyebut setidaknya ada 11 menteri yang pernah duduk di kabinet sebelumnya dan kini kembali menjabat di pemerintahan Prabowo.
“Kami menilai kehadiran para loyalis Jokowi di Pemerintahan Prabowo Subianto ini dapat menciptakan dilema dan berpotensi menjadi sandera kepentingan politik jangka panjang,” ujar Habib Syakur saat dimintai keterangan, Sabtu (29/8/2026).
Daftar Menteri Warisan yang Bertahan di Kabinet Prabowo
Sejumlah figur kunci yang bertahan di kabinet baru meliputi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Menteri Pekerjaan Umum Sakti Wahyu Trenggono.
Selain itu, ada pula Pratikno, Zulkifli Hasan, Saifullah Yusuf, Raja Juli Antoni, dan Agus Gumiwang Kartasasmita yang masih menduduki kursi menteri. Menurut Habib Syakur, posisi strategis yang dipegang figur-figur dekat Jokowi membuat pengaruh mantan presiden itu masih dominan di pemerintahan saat ini.
Rekam Jejak Negatif dan Potensi Penyanderaan Politik
Habib Syakur menyoroti rekam jejak sejumlah menteri warisan yang dinilai bermasalah. “Padahal sejumlah menteri warisan Jokowi itu sebelumnya memiliki rekam jejak negatif. Baik secara pribadi maupun rekam jejaknya terkait dengan permasalahan hukum,” katanya.
Ia memperingatkan bahwa jika Prabowo tidak mengambil tindakan tegas, kabinet berisiko tersandera kepentingan politik jangka panjang. Kondisi ini disebutnya bisa menghambat proses politik terkait wacana dua periode pemerintahan Prabowo.
Sinyal Percepatan Pergantian Kepemimpinan Nasional
Kekhawatiran itu diperkuat pernyataan Ketua Umum Pro Jokowi (Projo), Budi Arie Setiadi, yang menyebut adanya kemungkinan dinamika politik dan pergantian kepemimpinan nasional terjadi lebih cepat sebelum 2029. Pernyataan tersebut disampaikan Budi Arie di depan sejumlah relawan dan disaksikan langsung oleh Jokowi.
Habib Syakur menduga pernyataan Budi Arie bukan sekadar ucapan spontan, melainkan hasil pembahasan panjang bersama Jokowi dan tim relawannya. “Tidak menutup kemungkinan juga para menteri Prabowo yang dekat dengan Jokowi tengah mempersiapkan diri merapatkan barisannya dengan geng Solo. Manuver inilah yang patut diwaspadai oleh Prabowo Subianto dan pendukungnya,” pungkasnya.
Meski demikian, langkah Prabowo mengakomodasi orang-orang Jokowi di awal pemerintahannya dinilai sebagai bentuk transisi pragmatis. Presiden disebut masih memantau kinerja para menteri dan membuka peluang perombakan kabinet sesuai kebutuhan pemerintahan ke depan.