Eksisnya spesies manusia di muka bumi ini, salah satunya, karena pandai bernarasi. Tentu saja kemampuan berkembang biak yang otodidak itu juga sangat membantu. Sebuah kebenaran yang saya pikir sulit dibantah. Bagaimana mungkin nenek moyang kita alih-alih berkembang biak tanpa ada aktivitas bercerita, agak sulit menalarnya. Entahlah jika ada versi lain.
Kian ke sini, kemampuan yang menjadi alasan manusia tetap eksis itu kian membimbangkan. Setakat memperkenalkan diri saja kadang kesulitan. Ini misalnya saya temui di perguruan tinggi, bahkan. Belum lagi jika dimintai menceritakan pengalaman. Agak gagap, sedikit kelu. Itu kesan yang saya tangkap.
Ini sebetulnya bukan perkara unik, tapi cukup menganggu kemudian. Karena ada hal penting dari manusia yang lamat-lamat pupus. Apalagi sejak era tiktok dan AI menyerang, yang betul-betul menyita fokus dan menandaskan kuriositas. Apa jadinya manusia tanpa rasa penasaran. Kicauan di kepala selesai dijawab tuntas via gawai, bukan di lapak diskusi atau forum akademik. Percakapan tidak lagi sehangat dulu. Memang kedai kopi menjamur di mana-mana, sayangnya 'percakapan' tidak terjadi. Perkelahian ide dan konsep tergerus menjadi bual-bual kosong, juga kesibukan online.
Bercerita atau bernarasi, dua kata yang bergantian saya pakai dalam tulisan ini, ternyata sebuah kemampuan yang gampang-gampang susah. Sebab bernarasi berkaitan dengan bahasa otak manusia memproses makna guna memengaruhi dan meyakinkan orang lain. Bahasa bayinya, sebuah kemampuan menjelaskan apa yang terjadi, siapa yang terlibat, bagaimana kejadiannya, dan apa artinya. Banyak orang yang bisa bercerita tapi belum tentu mampu meyakinkan. Cerita yang baik membuat orang melihat sesuatu yang tadinya luput dari perhatian.
Pada titik itulah saya teringat pesisir Riau.
Apa yang terjadi dengan kawasan di timur Sumatera ini berbanding lurus dengan minimnya narasi tentang kedigdayaan, keluhuran, dan keistimewaannya. Walhasil, pesisir Riau menjadi area yang terabaikan, sehingga potensi maritim yang meruah itu tidak tergarap dengan seharusnya.
Dumai, Bengkalis, Kepulauan Meranti, Rokan Hilir, dan Siak memiliki hubungan panjang dengan laut, sungai, perdagangan, dan akses lintas negara. Tetapi seberapa sering kawasan ini diceritakan sebagai satu ruang maritim yang penting? Seberapa jauh kita sendiri mengenal pengetahuan, kearifan, dan cara hidup masyarakatnya?
Miskinnya narasi ini patut direspons setidaknya melalui tiga aktivasi:
Pertama, aktivasi kesadaran sebagai manusia pesisir. Manusia yang hidup di kawasan pesisir tentu tidak otomatis menyandang predikat "jiwa bahari." Tubuh-raga memang tunak di sana, tapi sejatinya alam pikir dan cara hidup belum tentu sejumbuh dengan "kaidah pesisir." Rasa-rasanya, harapan terhadap laut kian surut dan orientasi hidup telah bergeser, berkebalikan dengan lirik tembang Nelayan Kecil karya Nasida Ria yang begitu optimistis dalam mencitrakan watak manusia pesisir yang gigih "berjuang melawan hidup".
Kedua, aktivasi gerakan. Sebuah kemampuan bertindak secara berkelanjutan. Agar tahap kedua ini tercapai, tahap pertama menjadi sebuah keniscayaan, untuk tidak mengatakan fardhu 'ain. Sebagai langkah taktis dan teknis, tahap kedua ini tentu memerlukan manusia-manusia yang ambisius, kompeten, dan trengginas. Serta upaya teknokratis yang elok. Gerakan yang dilakukan bisa macam-macam. Sedapatnya, mengonsolidasi masyarakat pada satu gerakan: menghidupkan ekosistem ekonomi maritim, yang kreatif dan berorientasi global.
Ketiga, aktivasi naratif. Sebuah upaya serius menceritakan hal-ihwal kedigdayaan pesisir. Bukan untuk menghebat-hebatkan diri, glorifikasi, atau semacamnya, melainkan menarik pesisir Riau ke radar percakapan global. Kita sungguh tidak menafikan bahwa aktivasi naratif itu ada, dan telah dilakukan, tetapi sering kali hanya beredar pada permukaan dan tidak sampai pada tataran lebih dalam, yakni meletakkan pesisir Riau sebagai sebuah peradaban yang sarat dengan tata nilai, gugusan keilmuan, dan identitas luhur. Sederhananya, bagaimana mengemas khazanah pesisir sebagai sebuah metodologi yang kuat, bukan hanya bual-bual setakat kebanggaan diri. Ini poinnya.
Pembangunan manusia tentu tidak cukup dipaksakan dengan infrastruktur, butuh sesuatu yang lebih kultural lewat penguatan identitas luhur. Penguatan itu paling efektif dibentuk lewat narasi, begitu setidaknya orang tua-tua meneladani. Sebab manusia cenderung digerakkan oleh cerita. Keterhubungan dengan nilai dan identitas masa lalu yang dikemas melalui cerita lebih memiliki daya reproduktif yang lebih rekat.
Etika, ketokohan, dan budi pekerti dipahami lewat narasi, bukan sekadar melalui diktat, modul, ataupun jurnal. Kemampuan bercerita berbanding lurus dengan upgrading kapasitas intelektual dan mental manusia di dalamnya. Bagaimana Dumai diceritakan, Meranti dinarasikan, Rohil dikisahkan, dan seterusnya menghendaki manusia yang terampil berkisah. Hari ini, kita boleh telusur, siapa dan seberapa intens negeri-negeri pesisir ini dinarasikan? Bagaimana kawasan pesisir dibicarakan di aras global? Kalau mau jawab cepat sambil seloroh, ya khazanah pesisir hampir tidak dilirik, bahkan tak terdengar dalam bisingnya percakapan global, di aspek apa pun.
Terlalu picik misalnya kita berasumsi bahwa potensi maritim sengaja diabaikan (pembiaran struktural), kendatipun memang iya. Entah itu karena kebijakan yang cenderung berorientasi daratan, anggaran terbatas, hingga sawitisasi. Asumsi semacam ini hanya membuat kita berjalan di tempat, tanpa upaya progresif mendongkrak potensi kawasan. Sibuk mengambinghitamkan struktur tapi abai membenahi rumah tangga sendiri. Buruk muka cermin yang dibelah. Demikian kondisi kita.