IHSG Anjlok 1,51% ke 6.147, Asing Malah Serok BBRI Rp 49,68 Miliar
NARAWARTA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 1,51% atau 94 poin ke level 6.147,86 pada perdagangan Senin (28/9/2026), melanjutkan tren koreksi yang sudah berlangsung beberapa sesi. Di tengah tekanan itu, investor asing justru membukukan penjualan bersih Rp 1,13 triliun di seluruh pasar, dengan Rp 259,83 miliar di pasar reguler dan Rp 871,03 miliar di pasar negosiasi serta tunai.
Tekanan jual menyapu hampir seluruh papan perdagangan. Sebanyak 532 saham melemah, hanya 180 saham yang menguat, dan 81 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat tipis, hanya Rp 12,58 triliun, melibatkan 37,37 miliar saham dalam 1,66 juta kali transaksi.
Meski arus modal asing keluar besar, sejumlah emiten tetap diborong. Data Stockbit menunjukkan 10 saham dengan net foreign buy terbesar pada sesi tersebut, dipimpin oleh saham perbankan pelat merah dan emiten tambang emas.
BBRI dan AMMN Pimpin Pembelian Asing
Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menempati posisi teratas dengan net foreign buy Rp 49,68 miliar. Angka itu jauh melampaui emiten lain di daftar yang sama, menandakan minat asing terhadap saham perbankan berkapitalisasi besar masih bertahan kendati IHSG tertekan.
Di bawahnya, Amman Mineral Internasional (AMMN) mencatatkan net buy Rp 19,49 miliar, disusul Merdeka Gold Resources (EMAS) Rp 19,36 miliar. Keduanya bergerak di sektor tambang, sektor yang selama ini menjadi incaran investor asing ketika harga komoditas menguat.
Bank Central Asia (BBCA) melengkapi dominasi perbankan di daftar ini dengan net buy Rp 17,93 miliar. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menyusul dengan Rp 17,78 miliar.
Daftar Lengkap 10 Saham Net Foreign Buy Terbesar
- BBRI — Rp 49,68 miliar
- AMMN — Rp 19,49 miliar
- EMAS — Rp 19,36 miliar
- BBCA — Rp 17,93 miliar
- DSSA — Rp 17,78 miliar
- INET — Rp 13,86 miliar
- GGRM — Rp 13,75 miliar
- AMRT — Rp 12,16 miliar
- ERAA — Rp 11,82 miliar
- RAJA — Rp 10,37 miliar
Sektor Konsumer dan Energi Ikut Kebagian
Gudang Garam (GGRM) mencatatkan net buy Rp 13,75 miliar, sementara Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) Rp 12,16 miliar. Keduanya mewakili sektor konsumer yang biasanya dianggap defensif saat pasar bergejolak.
Erajaya Swasembada (ERAA) menyusul dengan Rp 11,82 miliar, dan Rukun Raharja (RAJA) menutup daftar dengan Rp 10,37 miliar. Sinergi Inti Andalan Prima (INET) berada di tengah daftar dengan Rp 13,86 miliar.
Artinya bagi Investor
Pola ini menunjukkan asing tidak keluar dari semua lini. Mereka mengurangi eksposur secara agregat, tetapi tetap menambah posisi di saham-saham tertentu yang dianggap punya fundamental kuat atau prospek sektor yang jelas.
Bagi investor ritel, daftar net foreign buy kerap dijadikan acuan tidak langsung soal saham mana yang masih dilirik institusi besar. Namun, perlu dicatat bahwa pembelian asing di satu sesi tidak otomatis menjadi sinyal tren jangka panjang, terutama ketika nilai transaksi pasar sedang tipis seperti pada perdagangan Senin.
Volume transaksi yang hanya Rp 12,58 triliun menandakan likuiditas sedang seret. Dalam kondisi seperti ini, pergerakan harga saham individual bisa lebih mudah terombang-ambing oleh aliran dana asing yang relatif kecil sekalipun.