Pertamina Pacu Dual Growth Strategy demi Ketahanan Energi Nasional

Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita memaparkan strategi ketahanan energi nasional dalam forum IdeaFest 2026 di Jakarta Convention Center, Jumat (4/9).
Penulis: Wahyu
Sabtu, 05 September 2026 | 18:03:02 WIB

NARAWARTA.COM — Ketergantungan terhadap pasokan energi impor masih membayangi perekonomian nasional seiring laju konsumsi domestik yang melampaui kapasitas produksi migas dalam negeri. Kondisi struktural ini menuntut bauran strategi yang menjaga ketersediaan bahan bakar masyarakat sekaligus merintis diversifikasi energi bersih.

Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menegaskan bahwa ketimpangan neraca migas tersebut menjadi landasan korporasi menjalankan dua pilar pertumbuhan sekaligus.

"Sudah lama sekali kita melakukan impor. Artinya, konsumsi kita lebih tinggi daripada produksi nasional. Di situlah kita perlu mendatangkan pasokan migas dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/9).

Dua Jalur Penguatan Pasokan Energi

Dalam forum IdeaFest 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jumat (4/9), Arya memaparkan pendekatan Dual Growth Strategy di hadapan generasi muda. Fokus pertama bertumpu pada pengoptimalan bisnis eksisting guna mengamankan distribusi BBM nasional dari fasilitas kilang dan hulu migas.

Fokus kedua diarahkan pada pengembangan lini usaha rendah karbon sebagai motor pendapatan baru di masa depan. Model dwifungsi ini dirancang agar agenda dekarbonisasi tidak memicu gangguan pasokan atau kelangkaan bahan bakar di pasar domestik.

"Untuk memenuhi kebutuhan saat ini, kita harus menjaga ketahanan produksi agar masyarakat tetap mendapatkan BBM. Di sisi lain, kita juga membangun bisnis rendah karbon dan energi baru terbarukan," tutur Arya.

Dia menambahkan, langkah paralel ini menjadi jembatan menuju kemandirian energi nasional jangka panjang tanpa mengorbankan stabilitas konsumsi harian.

"Untuk memenuhi kebutuhan kita, energi yang existing tetap dijalankan, sembari terus mengembangkan energi yang ramah lingkungan," pungkas Arya.

Komersialisasi Bioavtur dari Minyak Jelantah

Pada portofolio energi terbarukan, perseroan memprioritaskan proyek panas bumi, tenaga surya, serta pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Terobosan bahan bakar ramah lingkungan tersebut memanfaatkan used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai bahan baku utama.

Limbah minyak goreng tersebut diproses langsung di Kilang Pertamina Cilacap bersama bahan baku pendukung lain hingga menghasilkan bahan bakar penerbangan rendah emisi. Formulasi bioavtur ini telah melewati serangkaian uji kelayakan teknis sebelum masuk ke tahap operasional penerbangan komersial.

"Minyak itu kita buat untuk bahan bakar pesawat udara. Namun jangan khawatir, ini aman karena risetnya sudah diinisiasi sejak 2015, diteliti secara ketat dan diuji coba dari 2021 hingga 2025," kata Arya.

Bahan bakar nabati dari Kilang Cilacap tersebut kini telah diaplikasikan pada armada maskapai anak usaha perseroan, Pelita Air Service, untuk melayani rute penerbangan Jakarta-Bali secara reguler.

Reporter: Wahyu