VinFast Target TKDN 80 Persen pada 2030, Pabrik Subang Jadi Andalan
NARAWARTA.COM — Komitmen itu diumumkan di tengah momentum pertumbuhan pasar kendaraan listrik Indonesia yang paling agresif di ASEAN. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat lonjakan wholesales dari 10.327 unit pada 2022 menjadi 43.193 unit pada 2024, lalu hampir dua kali lipat menjadi 103.931 unit tahun lalu. Pangsa pasar EV murni nasional kini berada di angka 18 persen dari total penjualan mobil baru, melampaui rata-rata kawasan ASEAN yang sebesar 17 persen.
Pabrik 171 Hektare dengan Kapasitas 50 Ribu Unit per Tahun
VinFast tidak lagi mengandalkan skema impor utuh. Pabrik perakitannya di Subang dirancang sebagai fasilitas terintegrasi dengan luas lahan 171 hektare dan kapasitas produksi awal 50 ribu unit per tahun. Alur produksi berjalan dari pengelasan bodi, pengecatan, hingga perakitan dan pengujian kualitas dalam satu kawasan.
Lini produksi ini mencakup enam model sekaligus: city car VF 3 dan VF 5, SUV VF 6 dan VF 7, sampai MPV listrik VF MPV 7. Di sekitar pabrik, VinFast juga menyiapkan kawasan pendukung yang melibatkan pemasok dan kontraktor lokal. Total investasi yang digelontorkan bertahap mencapai lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp16 triliun.
Peta Jalan TKDN Bertahap dari 40 Persen hingga 80 Persen
Peningkatan lokal tidak dilakukan sekali jadi, melainkan bertahap sesuai regulasi pemerintah. VinFast menargetkan TKDN melampaui 40 persen pada 2026, naik ke 60 persen pada 2029, dan menembus 80 persen mulai 2030.
Angka itu sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Aturan tersebut membagi capaian TKDN untuk roda empat atau lebih dalam tiga periode: minimal 40 persen pada 2022-2026, minimal 60 persen pada 2027-2029, dan wajib 80 persen pada 2030 dan seterusnya.
Dampak ke Konsumen: Suku Cadang Lebih Murah dan Cepat Tersedia
Kejar target TKDN ini membawa konsekuensi nyata untuk pembeli, bukan sekadar kewajiban administratif. Perakitan komponen di dalam negeri memperpendek rantai distribusi suku cadang sehingga ketersediaan di bengkel lebih terjamin dan waktu perbaikan lebih singkat. Biaya produksi yang lebih efisien juga berpotensi menekan harga jual dan biaya perawatan bulanan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pentingnya integrasi industri ini.
"Pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia harus diikuti dengan penguatan rantai pasok dalam negeri untuk mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih, sekaligus meningkatkan nilai tambah produksi nasional melalui kemitraan dengan IKM komponen lokal," ujarnya dalam keterangan resmi VinFast, Kamis (3/9).
Laporan PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia mengonfirmasi posisi strategis pasar domestik, yang berdasarkan data Ember Energy juga berhasil mengungguli pangsa pasar kendaraan listrik Amerika Serikat. Bagi VinFast, Indonesia bukan sekadar pasar tujuan ekspor, melainkan pijakan manufaktur utama untuk menguasai rantai pasok di kawasan Asia Tenggara.