Project DualPlay Mini dan Predator Atlas 7: Handheld Lipat Acer dengan Keyboard di IFA 2026
NARAWARTA.COM — Project DualPlay Mini memang menjadi sorotan utama karena menawarkan pendekatan desain yang berbeda dari konsol genggam pada umumnya. Namun Acer menegaskan bahwa perangkat ini masih berstatus "konsep semata" dan belum ada kepastian mengenai rencana produksi massalnya.
Konsep Lipat dengan Keyboard Tersembunyi
Ide utama Project DualPlay Mini adalah membagi bodi handheld menjadi dua bagian yang terhubung engsel. Layar dapat dilipat ke atas untuk memperlihatkan keyboard QWERTY dengan lampu latar yang tersembunyi di bagian bawah. Saat dibuka penuh, pengguna mendapatkan layar yang bisa diputar ke sisi belakang cangkang, mengubah perangkat menjadi laptop mini—mengingatkan pada era netbook, tetapi dengan kemampuan komputasi yang jauh lebih tinggi.
Acer belum merinci spesifikasi teknis perangkat ini. Yang terungkap hanya penggunaan prosesor Intel, dugaan kuat mengarah ke chip seri G, serta sistem pendingin ganda yang memadukan satu kipas logam AeroBlade dengan satu kipas plastik—mirip dengan arsitektur yang dipakai di Predator Atlas 8.
Dari material render yang dibagikan, terlihat dua port USB-C, dua tombol belakang, dan satu area yang kemungkinan berfungsi sebagai touchpad atau pemindai sidik jari. Perangkat ini juga disebut mendukung koneksi ke layar eksternal, kemungkinan melalui Thunderbolt 4 mengingat jejaknya yang sama dengan Atlas 8.
Detail lain yang menarik: di bagian belakang bodi terdapat tulisan kode Morse "Acer 50 since 1976" untuk merayakan ulang tahun Acer yang ke-50. Sentuhan kecil ini tampak samar pada render, berada di area bawah cangkang.
Spesifikasi Predator Atlas 7
Berbeda dengan konsep, Predator Atlas 7 adalah produk nyata yang akan segera dijual. Handheld ini membawa layar 7 inci IPS dengan resolusi 1080p, refresh rate 120Hz, dukungan multi-touch 10 titik, serta kecerahan puncak 500 nits. Layar ini sejatinya identik dengan milik Atlas 8, hanya lebih kecil.
| Komponen | Varian Atlas 7 |
| Prosesor | Intel Arc G3 / Arc G3 Extreme |
| Grafis | Intel Arc B370 / Arc B390 |
| Memori | Hingga 24GB LPDDR5X-7467 |
| Penyimpanan | Hingga 1TB PCIe 4 NVMe SSD (M.2 2280) |
| Port | 2x Thunderbolt 4, UHS-II microSD, 3.5mm combo |
| Konektivitas | Intel Killer Wi-Fi 7, Bluetooth 5.4 |
| Baterai | 60Whr / 80Whr (tergantung varian) |
| Audio | Dual 2W speaker dengan DTS:X Ultra |
| Bobot | Di bawah 700 gram (60Whr), di bawah 750 gram (80Whr) |
Bagian dalam perangkat mengandalkan chip Intel Arc G3 atau G3 Extreme, pengganti generasi sebelumnya yang pernah dipakai pada MSI Claw 8 EX AI+. Varian dengan baterai 80Whr dipasangkan dengan prosesor Arc G3 Extreme, sementara model dasar Arc G3 menggunakan baterai 60Whr. Sistem pendinginnya mengusung satu kipas AeroBlade berbahan logam dengan 89 bilah setebal 0,1mm dan satu kipas plastik tambahan.
Harga, Ketersediaan, dan Posisi di Pasar
Acer belum mengumumkan banderol resmi untuk Atlas 7. Sebagai gambaran, handheld bertenaga chip Arc G-series seperti MSI Claw 8 EX AI+ dijual di atas USD 1.500 (sekitar Rp 24,7 juta). Jika mengikuti pola tersebut, harga Atlas 7 kemungkinan besar berada di kisaran yang sama atau sedikit lebih tinggi.
Penjualan Atlas 7 akan dimulai di Amerika Utara pada kuartal IV 2026. Atlas 8 yang lebih besar rencananya menyusul lebih cepat, yakni pada September 2026 di wilayah Amerika Utara dan EMEA. Informasi mengenai ketersediaan di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum diumumkan sampai artikel ini ditulis.
Dengan dua lini produk ini, Acer memperjelas strateginya di segmen PC gaming genggam yang kini makin ramai. Atlas 7 menargetkan pengguna yang ingin performa tinggi dalam bodi lebih ringkas, sementara Project DualPlay Mini—jika kelak direalisasikan—bisa menjadi pembeda untuk mereka yang butuh perangkat gaming sekaligus alat kerja harian dalam satu genggaman.