Penipuan Diamond Mobile Legends Makin Marak, Interpol Bongkar Jaringan Siber Global
NARAWARTA.COM — Operasi Jackal IV yang digelar Interpol sejak November 2025 hingga Juni 2026 berhasil membongkar jaringan Crime-as-a-Service (CaaS) yang jadi tulang punggung penipuan daring global. Geng Black Axe dan kelompok kriminal Afrika Barat lainnya selama ini memasok layanan kejahatan mulai dari domain internet palsu, infrastruktur phishing, hingga jasa pencucian uang yang dipakai untuk menipu korban di berbagai platform, termasuk lewat transaksi game dan top-up ilegal.
Direktur Interpol, Tomonobu Kaya, menegaskan operasi ini dirancang untuk memutus aliran dana kelompok kriminal yang beroperasi lintas benua. "Kami memutus urat nadi kelompok kriminal yang meraup keuntungan finansial raksasa melalui jaringan digital global," ujarnya.
Modus Penipuan yang Kerap Menyasar Pemain Game
Penipuan berkedok investasi kripto dan saham dengan imbal hasil tinggi masih jadi senjata utama mereka. Di Rumania, polisi membongkar skema investasi bodong yang menjanjikan profit besar dari trading saham dan kripto. Sementara di Italia, jaringan pencucian uang lintas Eropa berhasil dilacak dan diungkap.
Untuk pemain game di Indonesia, modus ini sering muncul lewat tawaran jasa joki ranked, top-up murah dengan harga tidak wajar, atau undangan investasi lewat grup WhatsApp dan Discord. Korban diminta transfer sejumlah uang untuk "aktivasi" atau "biaya administrasi" sebelum akhirnya di-blokir pelaku.
Hasil Operasi dan Angka di Lapangan
Sebanyak 58 tersangka berhasil ditangkap dan 263 terduga pelaku kejahatan siber teridentifikasi. Polisi Argentina membongkar jaringan CaaS yang memasok domain dan layanan pencucian uang untuk geng Afrika Barat. Dari penggerebekan itu, 17 orang ditangkap dan 200 individu teridentifikasi terlibat.
Di Afrika Selatan, penggerebekan dilakukan di tujuh lokasi yang menjadi sarang romance scam. Modusnya menyasar pensiunan berbahasa Inggris lewat pendekatan emosional di aplikasi kencan dan media sosial, kemudian diarahkan untuk transfer dana atau membeli gift card yang bisa dijual kembali.
Tren Sextortion yang Mengincar Anak di Bawah Umur
Salah satu temuan yang paling mengkhawatirkan adalah praktik sextortion yang menyasar anak-anak mulai usia 14 tahun. Pelaku memeras korban dengan ancaman menyebarkan konten pribadi jika tidak membayar sejumlah uang. Interpol menyebut penyidikan masih terus berjalan dan data dari Operation Jackal IV akan jadi pijakan untuk memperluas perburuan kejahatan siber global.
Untuk gamer muda di Indonesia, penting untuk waspada terhadap permintaan pertemanan dari akun asing yang menawarkan hadiah, skin gratis, atau ajakan voice call di aplikasi seperti Discord dan Telegram. Jangan pernah membagikan foto atau video pribadi ke orang yang baru dikenal di dunia maya, dan laporkan segera ke otoritas jika menjadi korban percobaan pemerasan.
Operasi Jackal IV membuktikan bahwa penipuan daring bukan lagi kasus individual. Ini jaringan terorganisir yang memanfaatkan celah platform digital, termasuk ekosistem game, untuk mencari korban. Komunitas gaming Indonesia perlu lebih sadar bahwa tawaran yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan—dari diamond murah hingga investasi cuan—hampir selalu berujung penipuan.