Harga Pertamina Dex Naik Jadi Rp25.200 per Liter per 1 September, Ini Daftarnya
NARAWARTA.COM — Kebijakan ini diambil di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. Hanya segmen BBM non-subsidi yang terdampak, sedangkan harga Pertalite, Biosolar, Pertamax, dan Pertamax Green 95 dibiarkan stabil.
Naik Drastis untuk Tiga Jenis, Dua Lainnya Stabil
Daftar harga terbaru yang dipublikasikan di laman MyPertamina menunjukkan perubahan signifikan pada produk diesel dan bensin beroktan tinggi. Pertamina Dex kini menjadi produk termahal Pertamina dengan banderol Rp25.200 per liter, naik Rp4.050 dari harga sebelumnya.
Dexlite menyusul dengan kenaikan Rp4.000 per liter menjadi Rp23.700. Sementara Pertamax Turbo (RON 98) naik Rp1.300 menjadi Rp19.600 per liter.
Namun, dua produk non-subsidi lainnya justru tidak beranjak. Pertamax (RON 92) masih bertahan di Rp15.950 per liter, dan Pertamax Green 95 tetap dijual Rp16.600 per liter.
Segmen yang Terdampak dan Faktor Pendorong
Kenaikan ini menyentuh pengguna kendaraan bermesin diesel maupun bensin beroktan tinggi, mulai dari pemilik mobil mewah hingga kendaraan niaga berat yang mengandalkan Dexlite.
Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa penyesuaian harga mengacu pada formula yang ditetapkan pemerintah. Beberapa indikator menjadi pertimbangan utama, termasuk harga minyak mentah global, kurs rupiah, serta pajak.
"Penyesuaian harga dilakukan hanya sebagian produk BBM Non Subsidi yaitu Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite. Hal ini dilakukan dengan memperhatikan keekonomian, daya beli dan kondisi sosial masyarakat," ujar Kitty dalam keterangan resminya, Selasa (1/9/2026).
Harga BBM Lainnya Masih Tetap
Untuk produk bersubsidi, pemerintah dan Pertamina memilih menahan harga di tengah tekanan inflasi. Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter, sementara Biosolar tetap di angka Rp6.800 per liter.
Tidak adanya perubahan pada produk bersubsidi memberi sinyal bahwa beban kenaikan harga minyak dunia masih ditanggung oleh APBN melalui kompensasi. Langkah ini menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang mayoritas menggunakan Pertalite dan Biosolar.
Dengan pola penyesuaian yang selektif ini, Pertamina tampaknya berusaha menyeimbangkan margin usaha di segmen non-subsidi tanpa memicu gejolak harga di segmen yang lebih sensitif terhadap perubahan.
Keputusan ini juga sejalan dengan tren global di mana harga energi masih volatil akibat ketegangan geopolitik dan kebijakan produksi negara-negara OPEC+.