Dana Bank Dunia Rp151 Miliar Masuk ke Malang: Pemkot Resmi Luncurkan Program LSDP, Target Sampah ke TPA Dipangkas Jadi 300 Ton per Hari
MALANG — Produksi sampah harian warga Kota Malang yang mencapai 767 ton selama ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Dari jumlah tersebut, sekitar 500 ton masih harus ditampung setiap harinya di TPA Supit Urang, sebuah beban yang disebut Plh Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, tidak bisa lagi diatasi dengan pola lama.
Raymond menegaskan metode konvensional yang selama ini berjalan—kumpul, angkut, dan buang—harus segera ditinggalkan. Jika tidak, daya tampung TPA Supit Urang diprediksi bakal jebol dalam waktu dekat.
“LSDP menjadi instrumen penting. Namun program ini tidak bisa berdiri sendiri. Harus didukung kelembagaan, sistem pembiayaan, sarana memadai, serta perubahan perilaku warga,” kata Raymond dalam Talkshow Idjen Talk di Radio City Guide FM, Sabtu (29/8/2026).
Ancaman TPA Penuh pada 2028
Peringatan keras datang dari kalangan akademisi. Dosen Teknik Lingkungan ITN Malang, Sudiro, membeberkan hitung-hitungan ilmiah bahwa TPA Supit Urang bakal penuh total pada 2028 apabila pengolahan sampah dari hulu gagal ditekan.
Menurut Sudiro, mencari lahan TPA baru di tengah padatnya Kota Malang adalah hal yang mustahil. Ia menegaskan bahwa pengolahan dari sumber sudah sangat mendesak untuk dilakukan.
“Pengolahan dari sumber sudah sangat mendesak. Semakin sedikit residu yang masuk ke TPA, semakin sehat sistem penanganan sampah kita,” tegas Sudiro.
Dana Rp151 Miliar dan Skema Bertahap
Kota Malang resmi terpilih menjadi satu dari 30 daerah pilot project nasional program LSDP. Alokasi anggaran yang disiapkan mencapai sekitar Rp151 miliar, dengan suntikan awal sebesar Rp30 miliar yang diproyeksikan mulai mengucur pada 2027.
Pada 2026 ini, DLH Kota Malang masih fokus merapikan benteng regulasi, pedoman teknis, studi kelayakan, hingga inventarisasi sarana prasarana. Eksekusi lapangan baru dimulai bertahap pada 2027 lewat penyiapan infrastruktur, armada pengangkut, dan gerakan pemilahan di rumah tangga.
Pilot proyek hulu telah diresmikan di TPS 3R Kelurahan Purwantoro. Di lokasi ini, sampah tidak sekadar ditumpuk, tetapi dipilah dan diolah sehingga menghasilkan nilai ekonomi. LSDP diproyeksikan sanggup mengolah 100 hingga 150 ton sampah per hari, dan pada 2028 fasilitas pengolahan terpadu berskala besar siap didirikan.
300 Bank Sampah Butuh Jaminan Keberlanjutan
Sudiro mengingatkan bahwa masalah sampah bukan sebatas urusan teknis dinas kebersihan. Ada tiga pilar yang wajib dibenahi serentak: sosial, kelembagaan, dan teknis.
Kota Malang sebenarnya memegang modal sosial yang kuat. Sebanyak 300 bank sampah berdiri di tingkat RT dan RW. Namun, napas operasional bank sampah kerap kembang-kempis karena sangat bergantung pada figur pengurusnya. Pemkot diminta menjamin keberlanjutan organisasi bank sampah.
Sudiro juga menyoroti bahwa rumah tangga bukan satu-satunya pencemar. Instansi pemerintah, perkantoran, kawasan industri, pasar, hingga fasilitas kesehatan wajib mengolah limbahnya secara mandiri.
Reward dan Sanksi untuk Disiplinkan Warga
Guna mendisiplinkan warga, Sudiro mendorong skema reward dan sanksi yang berimbang. Warga yang tekun memilah sampah diberi apresiasi, sementara oknum yang membuang sampah sembarangan atau membakar sampah harus ditindak tegas lewat penegakan aturan.
“Kesadaran sukarela harus dipaksa oleh hukum yang mengikat,” ujarnya. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)