Model Ekonomi Eropa Runtuh, Von der Leyen Akui Kehilangan Energi Murah Rusia

Ursula von der Leyen menyampaikan pernyataan dalam konferensi REF di Paris, Prancis, terkait dampak kebijakan energi Uni Eropa.
Penulis: Doni
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 10:07:31 WIB

NARAWARTA.COM — Harga energi di Eropa saat ini bertahan dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan di Amerika Serikat dan China. Kondisi ini menempatkan Eropa jauh di belakang para pesaing utamanya dalam hal daya saing industri.

Akar Masalah: Kebijakan Pemangkasan Impor Energi Rusia

Uni Eropa memangkas secara drastis impor minyak dan gas bumi dari Rusia pasca-eskalasi konflik Ukraina tahun 2022. Kebijakan ini diambil dengan target penghentian total bahan bakar fosil Rusia pada 2027.

Keputusan tersebut diperparah oleh dinamika perang AS-Israel melawan Iran yang memperketat pasokan energi global. Akibatnya, tekanan terhadap harga energi di kawasan Eropa semakin berat.

Fondasi Kemakmuran yang Kini Runtuh

Von der Leyen menyoroti bahwa model pertumbuhan ekonomi Eropa yang selama bertahun-tahun bergantung pada energi murah kini tidak lagi dapat diandalkan. Ia menyampaikan pernyataan tersebut di hadapan para pelaku bisnis dalam konferensi REF di Paris.

Pengakuan ini menjadi sinyal serius bagi industri Eropa yang selama ini mengandalkan biaya produksi kompetitif. Tanpa akses energi murah, banyak sektor manufaktur Eropa menghadapi tekanan biaya yang meningkat tajam.

Dampak terhadap Daya Saing Kawasan

Perbandingan harga energi yang jauh lebih tinggi dibanding Amerika Serikat dan China membuat investor mulai menghitung ulang rencana ekspansi bisnis mereka di Eropa. Beberapa perusahaan besar dilaporkan mempertimbangkan relokasi pabrik ke kawasan dengan biaya energi lebih rendah.

Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi UE untuk mempertahankan posisinya sebagai kekuatan ekonomi global. Kebijakan transisi energi yang dikejar Eropa kini harus berhadapan dengan realitas pahit ketergantungan pada sumber energi impor yang lebih mahal.

Pernyataan Von der Leyen ini membuka mata publik bahwa transisi energi tidak semulus yang digambarkan. Eropa kini harus mencari keseimbangan antara komitmen iklim dan kebutuhan menjaga daya saing industrinya di tengah gejolak geopolitik global.

Reporter: Doni