Bursa Asia Variatif, Nikkei Naik 0,86% tapi Kospi Turun 0,8%

Indeks Nikkei 225 naik 0,86% saat bursa Asia bergerak variatif pada Kamis (1/10/2026).
Penulis: Rendra
Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:03:32 WIB

NARAWARTA.COM — Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Kamis (1/10/2026) saat investor mencermati prospek inflasi Amerika Serikat, imbal hasil Treasury yang masih tinggi, dan arah suku bunga Federal Reserve. Indeks Nikkei 225 naik 0,86%, sementara Kospi Korea Selatan turun 0,8% dan Topix melemah 0,44%. Pasar China daratan dan Hong Kong tutup karena libur.

Melansir CNBC, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq dibuka relatif datar. Pasar Asia memasuki bulan perdagangan baru dengan sikap wait and see terhadap sejumlah agenda ekonomi AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.

Pelaku pasar tengah menimbang data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, di tengah imbal hasil Treasury AS yang masih tinggi dan ketidakpastian mengenai keputusan suku bunga The Fed berikutnya. Keputusan tersebut dijadwalkan pada akhir Oktober, bersamaan dengan musim rilis laporan keuangan perusahaan.

Imbal Hasil Treasury AS Bertahan di Level Tinggi

Imbal hasil Treasury AS bergerak naik meskipun indeks harga personal consumption expenditures (PCE) untuk Agustus menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan. Indeks tersebut meningkat 3,4% secara tahunan, di bawah konsensus Dow Jones sebesar 3,7%.

Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun sempat menembus 5,3% pada Rabu (30/9/2026), mendekati level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, imbal hasil tenor 30 tahun melampaui 5,6%, mencapai level tertinggi sejak 2002.

Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor penekan bagi pasar ekuitas Asia. Ketika yield obligasi naik, imbal hasil aset berisiko seperti saham menjadi kurang menarik bagi investor global yang mencari return lebih kompetitif.

Kinerja Laba Perusahaan Jadi Pertanyaan Utama

"While those factors remain headwinds, corporate earnings have continued to show resilience," kata Tracie McMillion, Head of Global Asset Allocation Strategy Wells Fargo Investment Institute.

Menurut McMillion, pertanyaan utama saat ini adalah apakah kekuatan kinerja laba perusahaan dapat berlanjut ketika biaya pinjaman masih berada di level tinggi. Ketahanan margin laba di tengah suku bunga mahal menjadi penentu arah pasar dalam beberapa bulan ke depan.

Data Tenaga Kerja AS dan Laporan Nike Jadi Katalis Berikutnya

Pada perdagangan Kamis, investor akan mencermati data initial jobless claims AS yang dijadwalkan rilis pukul 08.30 waktu Eastern Time (ET). Data tersebut akan diikuti laporan ketenagakerjaan AS untuk September yang dirilis pada Jumat.

Dari sisi korporasi, investor juga menantikan laporan keuangan Nike yang dijadwalkan dirilis setelah penutupan perdagangan bursa AS. Rilis tersebut menjadi salah satu laporan kinerja perusahaan yang akan menjadi perhatian pasar pada awal bulan perdagangan baru.

Bagi investor di kawasan Asia, kombinasi data tenaga kerja AS yang kuat dan yield Treasury yang tetap tinggi berpotensi menahan aliran dana masuk ke pasar ekuitas emerging market. Sebaliknya, pelemahan data tenaga kerja dapat menjadi sinyal awal bahwa The Fed akan melunak, yang biasanya menjadi katalis positif bagi bursa regional.

Reporter: Rendra