Hipertensi saat Hamil Meningkat 73 Persen, Kenali Penyebab dan Risikonya
NARAWARTA.COM — Kasus hipertensi gestasional di Amerika Serikat melonjak dari 6 persen pada 2016 menjadi 10,4 persen pada 2024. Artinya, sekitar 1 dari 10 ibu yang melahirkan kini mengalami tekanan darah tinggi saat hamil. Berikut penyebab, jenis, dan risiko yang perlu ibu ketahui sejak awal kehamilan.
Laporan National Center for Health Statistics, CDC, yang dirilis 29 Juli 2026 mencatat kenaikan tajam hipertensi gestasional di Amerika Serikat. Pada 2024, sekitar 10,4 persen ibu melahirkan mengalami kondisi ini, naik dari 6 persen pada 2016.
Angka itu setara kenaikan sekitar 73 persen dalam delapan tahun. Pemeriksaan tekanan darah rutin selama kehamilan jadi semakin penting, karena hipertensi bukan keluhan ringan.
Mengapa Hipertensi saat Hamil Terus Meningkat
CDC menyebut gangguan hipertensi pada kehamilan sebagai komplikasi yang umum terjadi dan termasuk penyebab utama morbiditas serta mortalitas ibu di Amerika Serikat. Meski begitu, penelitian ini belum bisa menjelaskan penyebab pasti kenaikannya.
Ahli statistik Elizabeth C.W. Gregory dari National Center for Health Statistics mengatakan data tersebut menunjukkan adanya peningkatan hipertensi pada kehamilan, tetapi penelitian itu tidak menjelaskan penyebab kenaikannya.
Dr. Elizabeth K. Cherot, dokter spesialis kebidanan dan kandungan, menilai kenaikan ini substansial. Ia menambahkan kondisi ini kemungkinan masih kurang tercatat dalam akta kelahiran sehingga angka sebenarnya bisa lebih tinggi.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) mulai menyerukan deteksi dini tekanan darah tinggi pada ibu hamil sejak 2018. Pada 2023, sebuah gugus tugas merekomendasikan agar penyedia layanan kesehatan rutin memeriksa tekanan darah ibu hamil sejak tahap awal kehamilan.
Faktor yang Berkaitan dengan Risiko Hipertensi Gestasional
Data CDC menunjukkan beberapa karakteristik ibu yang berkaitan dengan risiko lebih tinggi. Pada 2024, angka hipertensi gestasional paling tinggi ditemukan pada ibu berusia 40 tahun atau lebih.
Risiko juga meningkat seiring semakin tingginya indeks massa tubuh atau BMI sebelum kehamilan. Kehamilan kembar atau lebih berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi, dengan angka hampir dua kali lipat dibandingkan kehamilan tunggal.
Beberapa kondisi kesehatan turut meningkatkan risiko gangguan hipertensi dalam kehamilan, seperti hipertensi kronis, penyakit ginjal, diabetes, dan penyakit autoimun tertentu seperti lupus. Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya juga menjadi salah satu faktor risiko.
Penting dibedakan antara faktor yang berkaitan dengan risiko dan penyebab meningkatnya hipertensi secara keseluruhan. Data CDC menunjukkan hubungan dengan beberapa karakteristik ibu, tetapi belum bisa menyimpulkan bahwa faktor-faktor tersebut merupakan penyebab kenaikan 73 persen tersebut.
Empat Jenis Hipertensi saat Hamil
Mayo Clinic membagi hipertensi dalam kehamilan menjadi beberapa jenis yang perlu ibu kenali.
- Hipertensi kronis: sudah ada sebelum kehamilan atau muncul pada 20 minggu pertama kehamilan.
- Hipertensi gestasional: tekanan darah tinggi pertama kali muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, tanpa protein berlebih dalam urine atau tanda kerusakan organ lain. Pada sebagian ibu, kondisi ini dapat berkembang menjadi preeklamsia.
- Hipertensi kronis dengan preeklamsia superimposed: terjadi ketika ibu yang sudah mengalami hipertensi kronis kemudian mengalami preeklamsia selama kehamilan.
- Preeklamsia: kondisi serius ketika tekanan darah tinggi setelah 20 minggu kehamilan disertai tanda gangguan pada organ lain, seperti ginjal, hati, darah, otak, atau paru-paru. Preeklamsia dapat berkembang menjadi eklamsia, yaitu kondisi dengan kejang yang termasuk keadaan darurat medis.
Ukuran Tekanan Darah yang Perlu Diwaspadai
Menurut ACOG, hipertensi dalam kehamilan umumnya ditandai dengan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih. Pada hipertensi gestasional, tekanan darah tinggi tersebut pertama kali muncul setelah usia kehamilan 20 minggu.
Karena itu, jangan lewatkan jadwal cek tekanan darah saat kontrol kandungan. Catat angkanya, tanyakan ke bidan atau dokter jika ada kenaikan, dan sampaikan bila ibu punya riwayat hipertensi, diabetes, atau preeklamsia sebelumnya.