Gunung Anak Krakatau Erupsi: Abu Vulkanik Terbukti Suburkan Tanah dan Serap Karbon
NARAWARTA.COM — Di balik kekhawatiran gangguan pernapasan akibat hujan abu vulkanik, material letusan Gunung Anak Krakatau ternyata menyimpan manfaat signifikan bagi ekosistem. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science Direct pada 25 November 2020 mengonfirmasi bahwa abu vulkanik dapat meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mengurangi kadar karbon di atmosfer. Kajian ini dilakukan oleh Kurniatun Hairiah dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya bersama timnya melalui artikel berjudul 'Applying volcanic ash to croplands - The untapped natural solution'.
Mengapa Abu Vulkanik Mampu Menyuburkan Lahan Pertanian?
Tefra atau abu vulkanik yang dilontarkan saat erupsi mengandung beragam unsur yang mudah larut, seperti Cl, Ca, Na, SO42?, Mg, dan F. Ion-ion ini segera terlepas ke dalam tanah dan berperan sebagai nutrisi alami bagi tanaman.
Tanah yang terbentuk dari material vulkanik ini dikenal sebagai Andisol atau Andosol. Jenis tanah ini hanya menutupi sekitar 1 persen permukaan bumi, namun menyimpan sekitar 5 persen cadangan karbon tanah global. "Berkat kesuburannya, Andisol sering kali menopang kepadatan penduduk yang tinggi dan memegang peranan krusial dalam menjamin ketahanan pangan," tulis para peneliti dalam kajiannya.
Potensi Serapan Karbon Mencapai 40 Persen Emisi Nasional
Proses pelapukan mineral vulkanik secara alami menyerap CO2 dari atmosfer. Analisis terhadap lapisan atas tanah vulkanik di Sumatra Barat menunjukkan rata-rata kandungan karbon organik sebesar 4 persen, bahkan pada kasus tertentu bisa mencapai 15 persen.
Data letusan sejak 1970 mencatat rata-rata 47 juta ton material vulkanik terlontar setiap tahun di Indonesia. Pada periode 2013 hingga 2019, letusan besar Merapi, Kelud, Sinabung, dan Anak Krakatau menghasilkan sekitar 500-600 juta ton material per tahun. "Pada tahun-tahun dengan letusan gunung berapi yang signifikan, jumlah CO2 yang diserap dapat mencapai 100-200 Mt, atau setara dengan 20-40 persen dari emisi bahan bakar fosil negara tersebut," jelas Kurniatun dkk.
Implikasi untuk Indonesia: 17 Persen Daratan Berpotensi Diolah
Tanah yang berasal dari material vulkanik mencakup sekitar 31,7 juta hektar atau 17 persen dari total luas daratan Indonesia. Melimpahnya tefra akibat frekuensi erupsi yang tinggi menjadikan negara ini laboratorium alami untuk pengembangan solusi pertanian berkelanjutan.
Dengan emisi bahan bakar fosil nasional mencapai 530 Mt CO2-eq pada 2016, potensi penyerapan karbon lewat pengelolaan abu vulkanik yang tepat dapat menjadi instrumen pendukung target pengurangan emisi. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa efek abu vulkanik sangat ditentukan oleh kuantitas dan komposisinya, termasuk jenis magma yang memengaruhi karakteristik material.
Apa Langkah Selanjutnya untuk Optimalisasi?
Kurniatun dkk mengakui bahwa pemanfaatan abu vulkanik untuk penyerapan CO2 masih memerlukan kajian lebih lanjut. Mekanisme proses geokimia terkait pelapukan dan pelarutan mineral vulkanik di dalam tanah perlu dipahami lebih baik agar laju dan metode aplikasi abu tersebut dapat dioptimalkan.
Riset lanjutan ini menjadi krusial bagi pengembangan kebijakan penggunaan lahan dan strategi mitigasi perubahan iklim berbasis potensi lokal Indonesia.