BMKG: Abu Vulkanik Anak Krakatau Meluas ke Enam Provinsi

Abu vulkanik letusan Anak Krakatau terdeteksi meluas hingga enam provinsi dan mengganggu operasional penerbangan.
Penulis: Redaksi
Minggu, 06 September 2026 | 05:20:02 WIB

NARAWARTA.COM — Sebaran abu vulkanik letusan Gunung Anak Krakatau terdeteksi meluas hingga ke enam provinsi dan mengganggu operasional penerbangan. Sebanyak tiga jadwal terbang di Lampung dibatalkan menyusul penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta pada dini hari yang sama demi keselamatan rute udara.

Sebaran Dua Lapisan Mencapai Jalur Udara Internasional

Lapisan pertama bergerak dari permukaan tanah sampai ketinggian 20.000 kaki mengarah ke Tenggara-Selatan. Pergerakan kolom ini menyelimuti sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya.

Lapisan kedua membubung jauh lebih tinggi, dari permukaan hingga mencapai 50.000 kaki. Sebarannya mencakup sebagian wilayah Lampung, Banten, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Selat Sunda bagian selatan, serta menjangkau Samudra Hindia di barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.

Ketinggian 50.000 kaki merupakan koridor jelajah krusial bagi lalu lintas udara internasional. Otoritas penerbangan kini berkoordinasi intensif dengan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin di Australia guna mengawasi laju abu dan mencegah risiko kerusakan mesin pesawat.

Aktivitas Erupsi dan Peringatan Bahaya Badan Geologi

Gunung Anak Krakatau kembali meletus pada Minggu 6 September 2026 pukul 03.53 WIB berdasarkan data MAGMA Indonesia PVMBG yang dilaporkan petugas pengamat Rioboniek Situmorang. Tinggi kolom letusan saat itu belum teramati lantaran erupsi masih berlangsung ketika laporan disusun.

Terkait eskalasi aktivitas tersebut, Badan Geologi Kementerian ESDM mengeluarkan rilis resmi mengenai potensi ancaman di sekitar kawah aktif.

"Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat."

Status Gunung Anak Krakatau bertahan di Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026, dengan catatan lebih dari 240 kali letusan selama masa siaga tersebut. PVMBG menginstruksikan masyarakat, pendaki, dan wisatawan mengosongkan area dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah.

Antisipasi Paparan Debu dan Potensi Tsunami

Melihat cakupan sebaran material letusan yang kian lebar, pemerintah daerah di enam provinsi terdampak diminta terus berkoordinasi dengan BPBD masing-masing. Warga diimbau mengenakan masker saat beraktivitas serta membatasi kegiatan di luar ruangan untuk mencegah gangguan pernapasan.

Meskipun letusan terus terjadi dan memuntahkan abu ke berbagai wilayah, ancaman bahaya sekunder di perairan dipastikan relatif aman. Risiko munculnya gelombang tsunami akibat aktivitas vulkanik ini dinilai sangat kecil hingga nyaris nihil.

Reporter: Redaksi